Senin 13 Apr 2026 05:50 WIB

Iran tak Gentar Diancam Trump dengan Blokade Selat Hormuz

Iran menyatakan AS mengubah sikap saat kesepakatan hampir tercapai di Islamabad.

Warga Korea Selatan berunjuk rasa menolak kerja sama pengamanan Selat Hormuz yang diminta Presiden AS Donald Trump di luar kedutaan AS di Seoul, Korea Selatan, 16 Maret 2026.
Foto: EPA/JEON HEON-KYUN
Warga Korea Selatan berunjuk rasa menolak kerja sama pengamanan Selat Hormuz yang diminta Presiden AS Donald Trump di luar kedutaan AS di Seoul, Korea Selatan, 16 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Iran menyatakan tak akan tunduk pada gertakan Presiden AS Donald Trump memblokade Selat Hormuz. Perunding utama negara itu, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan AS sedari awal memang telah mencoba menggagalkan kesepakatan.

“Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun,” kata Qalibaf dilaporkan media pemerintah. Ia menyatakan Iran mempunyai inisiatif yang sangat baik untuk menunjukkan niat baik dalam perundingan dengan AS sehingga menghasilkan kemajuan dalam perundingan.

Baca Juga

Qalibaf mengatakan ancaman baru Donald Trump tidak akan berdampak pada bangsa Iran. "Kalau AS melawan ya kami lawan, dan kalau maju dengan logika, kami hadapi dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apapun, biarkan mereka menguji kemauan kami sekali lagi agar kita bisa memberikan pelajaran yang lebih besar kepada mereka," ujarnya.

Ghalibaf yang juga ketua Parlemen Iran, juga mengingatkan Gedung Putih tentang kenaikan harga minyak di AS. “Nikmati angka di pom bensin saat ini,” tulisnya. “Dengan apa yang disebut ‘blokade’, Anda akan segera merindukan gas senilai 4–5 dolar AS.”

Sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa perundingan kemarin antara AS dan Iran sebenarnya hampir mencapai kesepakatan pada beberapa titik, namun akhirnya gagal karena AS “menggeser tujuan.” 

“Dalam pembicaraan intensif pada tingkat tertinggi dalam 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dengan itikad baik untuk mengakhiri perang,” tulisnya. "Tetapi ketika hanya beberapa senti saja dari 'MoU Islamabad', kami dihadapkan sikap maksimalisme, pergeseran tujuan, dan blokade. Tidak ada pelajaran yang diambil AS. Niat baik menghasilkan niat baik. Permusuhan menimbulkan permusuhan."

photo
Pejabat keamanan Pakistan memblokir jalan ketika kendaraan yang membawa pejabat AS lewat setelah mereka tiba di Pangkalan Udara Nur Khan, menjelang pembicaraan yang melibatkan delegasi AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, 10 April 2026. - (EPA/SOHAIL SHAHZAD)

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa kesepakatan dengan AS dapat dicapai jika “pemerintah Amerika meninggalkan totalitarianismenya.” “Jika pemerintah Amerika meninggalkan totalitarianismenya dan menghormati hak-hak bangsa Iran, pasti akan ada cara untuk mencapai kesepakatan,” tulis Pezeshkian. 

Pernyataannya menyusul percakapan telepon sebelumnya yang dilakukan Pezeshkian dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Ahad, di mana ia dilaporkan mengatakan bahwa Teheran siap mencapai kesepakatan untuk menjamin “perdamaian regional yang abadi”, asalkan kepentingan nasional Iran dihormati.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement