REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) memperkuat tata kelola keamanan informasi di tengah meningkatnya ancaman siber yang semakin kompleks. Langkah ini dilakukan melalui pengukuran tingkat kematangan keamanan siber dan sandi sebagai dasar penyusunan strategi penguatan sistem ke depan.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosantik) Sulteng, Suandi, mengatakan pendampingan dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memberikan gambaran komprehensif terkait kesiapan daerah dalam menghadapi risiko siber.
“Melalui penilaian ini kami memperoleh gambaran yang lebih utuh terkait tingkat kematangan keamanan siber dan sandi, sekaligus menjadi dasar perbaikan ke depan,” ujarnya di Palu, Sabtu.
Menurut dia, penguatan tata kelola keamanan informasi menjadi penting seiring meningkatnya intensitas ancaman digital. Ke depan, BSSN juga akan menyederhanakan instrumen pengukuran dengan menggunakan satu indikator utama, yakni Indeks Keamanan Siber dan Sandi (IKASANDI), yang mulai diterapkan pada 2027.
Ia menambahkan, momentum ini sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan BSSN dalam membangun ekosistem keamanan siber nasional yang tangguh dan berkelanjutan. Konsistensi pengelolaan data serta kolaborasi lintas bidang dinilai menjadi kunci keberlanjutan sistem, termasuk dalam menghadapi dinamika pergantian personel.
Di sisi lain, upaya penguatan keamanan digital juga dilakukan di sektor pendidikan. Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan Program Bug Bounty 2026 untuk mendorong partisipasi publik dalam menguji keamanan sistem.
Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, Wibowo Mukti, menjelaskan program tersebut dirancang sebagai ruang aman (sandbox) bagi peserta untuk menguji celah keamanan tanpa mengganggu layanan utama.
“Program ini menjadi jembatan bagi insan pendidikan untuk menyalurkan minat di bidang keamanan siber menjadi prestasi,” ujarnya.
Pendaftaran program dibuka pada 6–30 April 2026, dilanjutkan dengan tahap pengujian pada 1–22 Mei, dan ditutup melalui Anugerah Bug Bounty pada 19 Juni 2026. Penilaian dilakukan dalam dua tahap, mencakup aspek teknis dan pelaporan, serta seleksi final melalui wawancara.
Wibowo juga menyoroti meningkatnya serangan siber berbasis kecerdasan artifisial sepanjang 2025, termasuk ransomware dan phishing. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman siber tidak hanya semakin masif, tetapi juga semakin canggih.




