Sabtu 11 Apr 2026 14:51 WIB

Laporan Intelijen: China Secara Rahasia Kirim Sistem Persenjataan Baru ke Iran

China menegaskan tak pernah beri senjata apa pun ke negara konflik.

Sebuah proyektil melintasi langit di atas kota Nablus, Tepi Barat, 27 Maret 2026. Militer Israel melaporkan bahwa mereka telah mendeteksi rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel, beberapa di antaranya menghantam Israel tengah.
Foto: EPA/ALAA BADARNEH
Sebuah proyektil melintasi langit di atas kota Nablus, Tepi Barat, 27 Maret 2026. Militer Israel melaporkan bahwa mereka telah mendeteksi rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel, beberapa di antaranya menghantam Israel tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Intelijen AS mengindikasikan bahwa China sedang bersiap untuk mengirimkan sistem pertahanan udara baru ke Iran dalam beberapa minggu ke depan. Demikian menurut tiga orang yang mengetahui penilaian intelijen baru-baru ini seperti dilaporkan CNN. 

Jika benar, maka ini akan menjadi langkah provokatif mengingat Beijing mengatakan telah membantu menengahi kesepakatan gencatan senjata yang rapuh untuk menghentikan perang antara Iran dan AS awal pekan ini. P

Baca Juga

Intelijen tersebut menggarisbawahi bagaimana kemungkinan Iran menggunakan gencatan senjata sebagai kesempatan untuk mengisi kembali sistem senjata tertentu dengan bantuan mitra asing utama.

Dua sumber mengatakan kepada CNN bahwa ada indikasi bahwa Beijing sedang berupaya untuk mengarahkan pengiriman melalui negara ketiga untuk menyamarkan asal sebenarnya.

Sistem yang sedang disiapkan Beijing untuk ditransfer adalah sistem rudal anti-pesawat yang dioperasikan dari bahu.

"Senjata itu dikenal sebagai MANPAD," kata sumber tersebut yang menimbulkan ancaman asimetris terhadap pesawat militer AS.

Seorang juru bicara kedutaan besar China di Washington mengatakan, China tidak pernah memberikan senjata kepada pihak mana pun dalam konflik. Informasi yang dimaksud tidak benar.

“Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China secara konsisten memenuhi kewajiban internasionalnya. Kami mendesak pihak AS untuk menahan diri dari membuat tuduhan tanpa dasar, membuat hubungan yang jahat, dan terlibat dalam sensasionalisme; kami berharap pihak-pihak terkait akan berbuat lebih banyak untuk membantu meredakan ketegangan.”

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement