REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Menteri luar negeri Iran dan Arab Saudi akhirnya kembali melakukan panggilan telepon pada Rabu. Ini merupakan kontak resmi pertama antara kedua negara sejak dimulainya serangan AS-Israel ke Iran.
Kementerian Luar Negeri Saudi mengatakan dalam sebuah pernyataan di X bahwa Menteri Luar Negeri negara itu, Pangeran Faisal bin Farhan, menerima telepon dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
“Selama percakapan telepon, mereka meninjau perkembangan terkini dan membahas cara-cara mengurangi ketegangan guna memulihkan keamanan dan stabilitas di kawasan.”
Tidak disebutkan kapan para pejabat tersebut berbicara, namun pernyataan tersebut dikeluarkan sehari setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu antara Iran dan AS.
Arab Saudi sebelumnya menyatakan menyambut baik gencatan senjata antara AS dan Iran. Kementerian Luar Negerinya menyatakan harapan bahwa gencatan senjata tersebut akan mengarah pada “deeskalasi yang komprehensif dan berkelanjutan”.
Lebih lanjut pernyataan tersebut menyatakan harapan bahwa gencatan senjata akan meningkatkan keamanan regional dan menghentikan “segala agresi atau kebijakan yang melanggar kedaulatan, keamanan dan stabilitas negara-negara di kawasan”.
Sesuai pernyataan tersebut, Arab Saudi menyerukan diakhirinya serangan terhadap negara-negara di Teluk dan menekankan bahwa Selat Hormuz harus dibuka.
Mereka juga memuji “usaha produktif” yang dilakukan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif serta Panglima Angkatan Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Darat Marsekal Asim Munir dalam mengamankan gencatan senjata selama dua pekan.