Kamis 09 Apr 2026 16:51 WIB

Menlu Saudi dan Iran Kembali Saling Telepon Sejak Serangan AS-Israel

Hubungan kedua negara tegang sejak Iran membalas serangan ke pangkalan AS di Saudi.

Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan (kanan) bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Riyadh, pada 9 Oktober 2024.
Foto: Kementerian Luar Negeri Saudi
Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan (kanan) bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Riyadh, pada 9 Oktober 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Menteri luar negeri Iran dan Arab Saudi akhirnya kembali melakukan panggilan telepon pada Rabu. Ini merupakan kontak resmi pertama antara kedua negara sejak dimulainya serangan AS-Israel ke Iran.

Kementerian Luar Negeri Saudi mengatakan dalam sebuah pernyataan di X bahwa Menteri Luar Negeri negara itu, Pangeran Faisal bin Farhan, menerima telepon dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Baca Juga

“Selama percakapan telepon, mereka meninjau perkembangan terkini dan membahas cara-cara mengurangi ketegangan guna memulihkan keamanan dan stabilitas di kawasan.”

Tidak disebutkan kapan para pejabat tersebut berbicara, namun pernyataan tersebut dikeluarkan sehari setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu antara Iran dan AS.

Arab Saudi sebelumnya menyatakan menyambut baik gencatan senjata antara AS dan Iran. Kementerian Luar Negerinya menyatakan harapan bahwa gencatan senjata tersebut akan mengarah pada “deeskalasi yang komprehensif dan berkelanjutan”.

Lebih lanjut pernyataan tersebut menyatakan harapan bahwa gencatan senjata akan meningkatkan keamanan regional dan menghentikan “segala agresi atau kebijakan yang melanggar kedaulatan, keamanan dan stabilitas negara-negara di kawasan”.

photo
Kapal kontainer ditambatkan di Pelabuhan Cape Town, Afrika Selatan, 2 Maret 2026. Sejumlah perusahaan mengalihkan jalur pelayaran akibat ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran. - (EPA/HALDEN KROG)

Sesuai pernyataan tersebut, Arab Saudi menyerukan diakhirinya serangan terhadap negara-negara di Teluk dan menekankan bahwa Selat Hormuz harus dibuka.

Mereka juga memuji “usaha produktif” yang dilakukan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif serta Panglima Angkatan Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Darat Marsekal Asim Munir dalam mengamankan gencatan senjata selama dua pekan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement