Kamis 09 Apr 2026 14:02 WIB

Inovasi Siswa SMK Dinilai Mampu Dorong Akselerasi Ekonomi Daerah

Karya-karya siswa SMK saat ini menunjukkan nilai aplikatif.

Ilustrasi kegiatan siswa SMK.
Foto: ANTARA FOTO/Andry Denisah
Ilustrasi kegiatan siswa SMK.

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS — Inovasi yang dihasilkan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong akselerasi ekonomi daerah, khususnya melalui pemanfaatan teknologi untuk pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Anggota DPD RI Abdul Kholik mengatakan karya-karya siswa SMK saat ini tidak hanya menunjukkan kreativitas, tetapi juga memiliki nilai aplikatif yang tinggi dan relevan dengan kebutuhan industri serta masyarakat.

Baca Juga

“Yang kita lihat ini seperti dibawa ke masa depan, era digital yang bisa diaplikasikan di hampir semua sektor, dan ini baru level anak-anak SMK,” ujar Kholik usai membuka Stematel Innovation Summit di SMK Telkom Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.

Menurut dia, inovasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong pelaku UMKM masuk ke era digitalisasi, sehingga mampu meningkatkan skala usaha sekaligus mengoptimalkan kinerja.

Ia juga mendorong pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dengan institusi pendidikan, khususnya SMK, guna memaksimalkan pemanfaatan inovasi yang dihasilkan siswa.

“Semua pihak harus berkolaborasi agar UMKM di Banyumas maupun wilayah Jawa Tengah bagian selatan bisa masuk ke era digitalisasi,” katanya.

Kholik menilai kawasan Jawa Tengah bagian selatan masih membutuhkan percepatan pembangunan, terutama dalam mengatasi ketertinggalan ekonomi dan kemiskinan. Menurutnya, teknologi dapat menjadi salah satu kunci untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sebenarnya sudah siap masuk ke era teknologi. Ini luar biasa,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala SMK Telkom Purwokerto, Krisma Dwi Brata, menjelaskan bahwa Stematel Innovation Summit merupakan bagian dari penilaian sumatif akhir jenjang bagi siswa kelas 12.

Ia menyebutkan siswa telah dibekali fondasi teknologi sejak kelas 10, kemudian mengembangkan kompetensi melalui pembelajaran berbasis proyek pada kelas 11, hingga menghasilkan karya inovatif pada tahap akhir pendidikan.

“Di kelas 12 ini adalah puncaknya, di mana karya anak-anak sudah memiliki standar industri,” kata Krisma.

Menurut dia, model pembelajaran berbasis proyek menjadi pendekatan utama, di mana siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga terjun langsung ke lapangan untuk berinteraksi dengan UMKM dan industri.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement