Rabu 08 Apr 2026 17:59 WIB

Taklimat Prabowo: Bahaya Hoaks, Ancaman Krisis Energi, dan Pemerintah Efektif

Satu setengah tahun ini alhamdulillah kita membuktikan pemerintah kita efektif.

Presiden Prabowo Subianto bersiap memberikan taklimat saat rapat kerja pemerintah bersama anggota Kabinet Merah Putih, pejabat eselon I kementerian/lembaga, serta direktur utama BUMN di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Rapat kerja yang dihadiri oleh lebih kurang 800 pejabat yang terdiri atas menteri, wakil menteri sampai dengan pejabat eselon I kementerian/lembaga dan direksi BUMN tersebut bertujuan memperkuat koordinasi, menyatukan arah kebijakan, serta meningkatkan sinergi seluruh unsur pemerintahan dalam menghadapi tantangan nasional dan global. Selain itu dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan arahan strategis setelah satu setengah tahun pemerintahan berjalan.
Foto: Republika/Prayogi
Presiden Prabowo Subianto bersiap memberikan taklimat saat rapat kerja pemerintah bersama anggota Kabinet Merah Putih, pejabat eselon I kementerian/lembaga, serta direktur utama BUMN di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Rapat kerja yang dihadiri oleh lebih kurang 800 pejabat yang terdiri atas menteri, wakil menteri sampai dengan pejabat eselon I kementerian/lembaga dan direksi BUMN tersebut bertujuan memperkuat koordinasi, menyatukan arah kebijakan, serta meningkatkan sinergi seluruh unsur pemerintahan dalam menghadapi tantangan nasional dan global. Selain itu dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan arahan strategis setelah satu setengah tahun pemerintahan berjalan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden RI Jenderal (Purn) Prabowo Subianto menyampaikan, penyebaran hoaks dan fitnah melalui media sosial (medsos) berpotensi merusak suatu negara. Terutama, sambung dia, dengan dukungan perkembangan teknologi digital yang membuat penyebarannya menjadi sangat cepat sampai masyarakat.

"Dulu kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks," kata Prabowo dalam taklimat pada rapat kerja pemerintah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026) siang WIB. Rapat itu juga dihadiri eselon I kementerian dan lembaga negara, serta dirut BUMN.

Baca Juga

Prabowo menjelaskan, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI) dan sistem informatika digital, memungkinkan seseorang memiliki banyak akun dalam jumlah besar. Dengan dukungan perangkat yang relatif tidak terlalu mahal, kata dia, akun-akun tersebut dapat diperbanyak sehingga menimbulkan kesan seolah-olah berasal dari banyak pihak.

Prabowo menyebut, kondisi itu dapat menciptakan efek gema (echo chamber), yang mampu memperbesar suatu isu hingga terlihat masif, meskipun pada awalnya hanya berasal dari kelompok kecil. Cara tersebut menjadi bentuk baru dari ancaman, yang berbeda dengan pendekatan konvensional di masa lalu.

"Jadi, yang agak repot mungkin 100 orang, 200 orang, mungkin 1000 orang, mungkin 5.000 orang bisa bikin heboh. Nah ini namanya echo chamber. Ada ini dalam pembelajaran intelijen, ini ada, bagaimana merusak sebuah negara lain," kata Prabowo.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement