Rabu 08 Apr 2026 10:06 WIB

Gencatan Senjata Iran, Kekalahan Strategis AS

Klausul gencatan senjata bertolak belakang dengan tujuan AS serang Iran.

Warga berkumpul di Teheran, ketika tersiar kabar tentang gencatan senjata dua minggu dalam perang AS-Israel melawan Iran, Rabu (8/4/2026).
Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters
Warga berkumpul di Teheran, ketika tersiar kabar tentang gencatan senjata dua minggu dalam perang AS-Israel melawan Iran, Rabu (8/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Pengumuman gencatan senjata AS-Iran yang diumumkan Presiden AS Donald Trump disertai sejumlah kondisi yang merugikan Amerika. Hal ini dinilai sejumlah pihak menunjukkan kekalahan strategis AS atas perlawanan Iran terkait serangan ilegal sejak 28 Februari lalu.

Masih belum jelas seperti apa bentuk kesepakatan masa depan antara AS dan Iran. Media pemerintah Iran mengatakan bahwa perjanjian gencatan senjata dibangun berdasarkan sepuluh poin rencana yang mereka serahkan ke AS, yang mencakup tuntutan maksimal yang telah ditolak oleh pemerintahan Trump di masa lalu.

Baca Juga

Dilansir the Guardian, Danny Citrinowicz, seorang peneliti non-residen di Dewan Atlantik, telah memberikan penilaian menohok mengenai hasil perang lima minggu Amerika. Ia mengingatkan serangan kala itu diluncurkan dengan “janji-janji besar: perubahan rezim di Iran, penghentian program rudal dan nuklirnya, dan mencegah Iran mengancam Selat Hormuz.”

“Dan di mana kita sekarang?” dia bertanya.

“Rezim ini masih berkuasa. Kemampuan misilnya merkipun rusak masih utuh. Negara ini masih menyimpan sekitar 440 kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen,” kata Citrinowicz.

Di lain hal, sebelum serangan AS-Israel ke Iran Selat Hormuz adalah jalur terbuka bagi semua pelayaran Internasional. Saat ini, selat itu dalam penguasaan penuh Iran yang mengkondisikan kendali dan tarif bersama dengan Oman. 

photo
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. - (Wikimedia Commons)

Kedua negara sama-sama mengapit selat yang biasanya dilintasi 20 persen migas dunia tersebut. Iran dan Oman juga berbagi hak teritorial atas Selat Hormuz.

“Jujur saja: ini bukanlah kemenangan strategis,” kata Citrinowicz.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement