Jumat 03 Apr 2026 14:28 WIB

Pakar Prediksi akan Ada Pemicu Tsunami Usai Gempa Bumi Magnitudo 7,6 di Laut Bitung

Gelombang tsunami sempat terdeteksi sesaat setelah gempa.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: A.Syalaby Ichsan
Warga mengamati rumah rusak terdampak gempa magnitudo 7,6 di Kelurahan Gambersi, Ternate, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026). Gempa bumi yang terjadi pukul 06.48 WIT tersebut berlokasi di koordinat 1.21 lintang utara dan 126.25 bujur timur pada kedalaman 18 km di perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara tersebut mengakibatkan bangunan rumah warga di Kelurahan Gambesi Ternate mengalami kerusakan ringan.
Foto: ANTARA FOTO/Andri Saputra
Warga mengamati rumah rusak terdampak gempa magnitudo 7,6 di Kelurahan Gambersi, Ternate, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026). Gempa bumi yang terjadi pukul 06.48 WIT tersebut berlokasi di koordinat 1.21 lintang utara dan 126.25 bujur timur pada kedalaman 18 km di perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara tersebut mengakibatkan bangunan rumah warga di Kelurahan Gambesi Ternate mengalami kerusakan ringan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Pakar geologi, Daryono menjelaskan, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang menghantam wilayah laut Bitung, Sulawesi Utara pada Kamis (2/4) pagi dikategorikan sebagai gempa megathrust oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Daryono mengatakan, gempa-gempa dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) di wilayah Laut Maluku merupakan konsekuensi langsung dari dinamika tektonik kompleks pada zona konvergensi ganda (double subduction system) yang unik di kawasan itu. 

Baca Juga

Daryono menyebut laut Maluku diapit oleh dua busur subduksi aktif, yaitu Lempeng Laut Maluku yang tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe, serta ke arah timur di bawah Busur Halmahera. "Kondisi ini menyebabkan akumulasi tegangan kompresi yang sangat intens pada kerak bumi," kata Daryono kepada wartawan, Jumat (3/4/2026). 

Dalam kerangka mekanika batuan dan tektonik lempeng, Daryono menerangkan mekanisme sesar naik terjadi akibat gaya kompresi horizontal yang mendorong satu blok batuan bergerak naik relatif terhadap blok lainnya. 

Di Laut Maluku, Daryono menyebut sumber gempa thrust umumnya berasosiasi dengan bidang kontak antarlempeng (megathrust) maupun deformasi internal pada slab yang tersubduksi. "Hal ini menjelaskan mengapa gempa-gempa di wilayah ini sering memiliki kedalaman menengah hingga dalam, namun tetap menunjukkan solusi mekanisme fokus berupa sesar naik," ujar Daryono. 

Secara geofisika, Daryono menyatakan karakteristik ini konsisten dengan hasil analisis momen sensor yang menunjukkan dominasi komponen kompresional (P-axis) hampir horizontal, serta bidang nodal yang mencerminkan geometri penunjaman lempeng. 

Selain itu, adanya interaksi kompleks antara dua sistem subduksi yang saling berhadapan (arc-arc collision) memperkuat intensitas deformasi."Sehingga meningkatkan frekuensi kejadian gempa dengan mekanisme sesar naik," ujar Daryono. 

Dari perspektif kebencanaan, Daryono mengamati gempa thrust di Laut Maluku memiliki signifikansi tinggi karena berpotensi menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal. Hal ini dapat memicu tsunami, terutama jika terjadi pada kedalaman dangkal dan melibatkan pergeseran besar di bidang patahan. 

"Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif terhadap mekanisme ini menjadi krusial dalam upaya mitigasi risiko bencana di kawasan Indonesia timur,"ujar Daryono. 

 

photo
Seorang warga berdiri di depan rumahnya yang rusak pascagempa di Kelurahan Mayau, Kecamatan Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, Jumat (3/4/2026). Berdasarkan data sementara BPBD Kota Ternate, sebanyak enam kelurahan di Kecamatan Pulau Batang Dua terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang terjadi pada Kamis (2/4) sekitar pukul 06.48 WIT dan mengakibatkan 46 rumah warga rusak berat, 42 rusak ringan serta 5 gedung gereja mengalami rusak sedang hingga berat. - (ANTARA FOTO/Andri Saputra)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement