Jumat 03 Apr 2026 09:35 WIB

Prancis Terpaksa Biayai Rafale F5 Sendirian Setelah UEA Menarik Diri

Perselisihan berpusat pada akses ke teknologi sensitif, khususnya di bidang optronik.

Jet tempur Rafale melakukan manuver di udara saat Misi Pegase 2024 di Ujung Kulon, Banten, Rabu (24/7/2024). Sebanyak dua pesawat Rafale, dua pesawat Airbus A400M Atlas, dan dua pesawat Airbus A330MRTT Phoenix akan singgah di Jakarta hingga 27 Juli 2024 dalam rangka menyelesaikan Misi Pegase 2024 dan memperkuat kerja sama pertahanan Angkatan Udara Indonesia dengan Prancis.
Foto: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
Jet tempur Rafale melakukan manuver di udara saat Misi Pegase 2024 di Ujung Kulon, Banten, Rabu (24/7/2024). Sebanyak dua pesawat Rafale, dua pesawat Airbus A400M Atlas, dan dua pesawat Airbus A330MRTT Phoenix akan singgah di Jakarta hingga 27 Juli 2024 dalam rangka menyelesaikan Misi Pegase 2024 dan memperkuat kerja sama pertahanan Angkatan Udara Indonesia dengan Prancis.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis pada akhirnya harus membiayai program jet tempur Rafale F5 sendirian setelah Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan untuk menarik diri dari partisipasi. Perselisihan tersebut berpusat pada akses ke teknologi sensitif, khususnya di bidang optronik, yang ditolak oleh Paris untuk dibagikan.

Awalnya, Abu Dhabi siap untuk berkontribusi hingga 3,5 miliar euro atau sekitar Rp Rp 68,6 triliun untuk program yang total diperkirakan menelan 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 98 triiun. Kegagalan negosiasi kini membuat Prancis menanggung seluruh biaya, dengan perkiraan penundaan dalam pengembangan dan pengiriman.

Baca Juga

Dikutip dari La Tribune, Jumat (3/2/2026), setelah beberapa bulan mengalami kebuntuan pembiayaan Rafale F5, kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Abu Dhabi pada Desember 2025, dimaksudkan untuk mengklarifikasi apa yang diharapkan kedua negara satu sama lain. Hal itu karena kedua negara sepakat mengenai pengembangan program itu, yang menggabungkan teknologi mutakhir terbaru.

Satu poin yang sangat menarik bagi UEA, adalah mereka sangat menyukai teknologi baru. Pada akhirnya, Macron harus mendengarkan keluhan panjang dari Syekh Mohammed bin Zayed, yang marah atas proposal Prancis mengenai masalah itu.

Pertemuan antara kedua kepala negara berjalan sangat buruk, karena Prancis dan UEA jelas tidak sependapat. Untuk membiayai Rafale F5, warga Emirat ingin terlibat sedekat mungkin dalam pengembangan jet tersebut. Pihak Prancis, di sisi lain, tidak siap untuk berbagi rahasia pengembangan ini, khususnya di bidang optronik.

Dilaporkan Defence24, dari perspektif strategis yang lebih luas, keputusan itu membawa implikasi yang signifikan. Prancis yang memiliki pangkalan militer di UEA, selama ini memperlakukan Abu Dhabi sebagai mitra utamanya di Semenanjung Arab.

Prancis juga merupakan salah satu pemasok senjata utama untuk UEA, setelah menjual, antara lain, 80 jet tempur Rafale dalam kesepakatan senilai 16 miliar dolar AS atau sekitar Rp 313,8 triliun. Dana itu juga untuk pembelian kapal korvet, rudal, dan sistem pertahanan canggih.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement