REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Tumpukan sampah sekitar enam meter yang tak kunjung tertangani di area pasar Induk Kramat Jati memicu keluhan pedagang. Selain menimbulkan bau menyengat hingga ke pemukiman warga, kondisi ini juga berdampak langsung pada penurunan jumlah pembeli dan membengkaknya beban biaya usaha.
Pantauan Republika, hingga Ahad (29/3/2026) sore, sampah masih terlihat menggunung di lokasi pembuangan. Meski terganggu oleh bau menyengat, aktivitas pedagang buah dan komoditas lainnya tetap berlangsung. Para pedagang menyebut, pascalebaran, sampah mulai diangkut setiap hari menggunakan sekitar 20 truk dump.
Di tengah kondisi tersebut, para pedagang mengaku harus bertahan dengan berbagai keterbatasan, dari menurunnya jumlah pembeli hingga meningkatnya beban biaya operasional. Suratno (52 tahun), salah satu pedagang, mengatakan, kondisi usaha semakin sulit sejak pandemi Covid-19.
Ia mengatakan, iuran kebersihan yang kini ditarik bulanan sekitar Rp 60 ribu hingga Rp 62 ribu terasa memberatkan di tengah sepinya pembeli.“Ya tetap mengeluh, soalnya per bulan itu bayar, mau nggak mau. Sementara yang belanja makin berkurang,” kata Suratno, Ahad (29/3/2026).
Sebelumnya, ujar dia, iuran sampah ditarik harian sekitar Rp2 ribu. Namun setelah sistem berubah menjadi bulanan, beban terasa lebih berat. Terlebih, jika pedagang terlambat membayar hingga dua atau tiga bulan. Lapak mereka pun terancam disegel pengelola.“Kalau telat dua bulan, tiga bulan, langsung dikasih peringatan, bisa disegel,” katanya.
Tak hanya soal biaya, persoalan utama juga terletak pada penumpukan sampah yang menyebabkan bau tak sedap. Kondisi ini membuat area pasar menjadi sempit dan tidak nyaman, baik bagi pedagang maupun pembeli.“Baunya nggak tahan. Pembeli juga mungkin jadi malas datang. Dulu jalanan lega, sekarang makin menyempit,” kata dia.