Selasa 24 Mar 2026 18:06 WIB

Mantra Penyelamat Pariwisata Bali di Tengah Ketidakpastian Global

Bagaimana Bali merawat pasar setia dan menjemput peluang baru.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Suasana kendaraan pengangkut wisatawan di Pelabuhan Gilimanuk Bali.
Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Suasana kendaraan pengangkut wisatawan di Pelabuhan Gilimanuk Bali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di bawah langit Bali yang masih biru cerah, hembusan angin laut Pantai Kuta terasa sedikit berbeda akhir-akhir ini. Bulan Maret 2026 hampir berakhir, tapi ketegangan ribuan kilometer jauhnya di Timur Tengah masih meninggalkan bayang-bayang panjang di Pulau Dewata.

Sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran, dunia seolah kembali dicekam ketidakpastian. Gencatan senjata belum terlihat, negosiasi macet, dan ruang udara di kawasan itu sempat tertutup rapat.

Baca Juga

Jarak memang jauh, tapi getarannya sampai ke sini. Bali, yang selama bertahun-tahun menggantungkan napasnya pada denyut pariwisata, merasakan hantaman itu melalui langit yang tiba-tiba sepi dari pesawat-pesawat transit.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mencatat, dalam sepekan pertama konflik (28 Februari hingga 6 Maret), sebanyak 64 penerbangan internasional batal, 34 keberangkatan dan 30 kedatangan. Lebih dari 8.000 calon penumpang terpaksa menunda perjalanan mereka, kebanyakan wisatawan yang rencananya transit melalui Doha, Abu Dhabi, atau Dubai sebelum melanjutkan ke Eropa dan Amerika.

Gubernur Bali Wayan Koster menyebutkan dampak langsungnya: kunjungan wisatawan asing berkurang sekitar 800 orang per hari. Hotel-hotel mulai merasakan penurunan hunian, pedagang suvenir di pasar seni, supir taksi, hingga pemilik warung makan kecil ikut merasakan getirnya. Namun, di tengah hembusan angin krisis itu, Bali tidak diam. Ia mulai menoleh ke arah lain, mencari napas baru.

Pemikiran dua guru pemasaran dunia, Philip Kotler dan Gary Armstrong, seolah menjadi bisikan pelan di telinga pelaku pariwisata Bali. Dalam buku klasik mereka, Principles of Marketing, keduanya mengingatkan: di saat sulit, kunci bukan hanya bertahan, melainkan menarik pasar baru sambil merawat yang sudah setia memberi. Diversifikasi menjadi mantra yang kini digaungkan lebih keras.

Pasar-pasar Asia kini menjadi harapan cerah. India, China, Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara ASEAN lainnya mulai naik daun. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali tahun 2025 menunjukkan India berada di urutan kedua dengan lebih dari 569 ribu kunjungan, disusul China sebanyak 537 ribu lebih.

Pertumbuhan wisatawan dari China, Korea Selatan, dan Jepang bahkan mencatat kenaikan dua digit dibandingkan tahun sebelumnya. Keunggulan mereka? Penerbangan langsung yang tidak bergantung pada hub rawan di Timur Tengah.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi