Selasa 24 Mar 2026 17:47 WIB

Laporan: Berperang dengan Iran, Tentara AS Runtuh Moral, 'Kami tak Mau Mati untuk Israel'

Banyak prajurit yang mempertimbangkan meninggalkan pengabdian militernya.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Teguh Firmansyah
Tim darurat Israel bekerja di lokasi serangan rudal Iran di daerah perumahan di Tel Aviv, Israel, 24 Maret 2026.
Foto: EPA/ABIR SULTAN
Tim darurat Israel bekerja di lokasi serangan rudal Iran di daerah perumahan di Tel Aviv, Israel, 24 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Prajurit militer Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan moral drastis dalam menghadapi cemooh publik internasional atas kebijakan Presiden Donald Trump dalam perang bersama Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran.

Dalam laporan Huffington Post dikatakan, para serdadu Paman Sam yang ditarik, maupun yang direncanakan untuk menjalani tugas dan penempatan di sejumlah negara-negara sekutu AS di wilayah di Timur Tengah (Timteng) mengalami tingkat stres dan frsutrasi atas kebijakan perang Trump saat ini.

Baca Juga

Bahkan menurut laporan itu, banyak prajurit yang mempertimbangkan meninggalkan pengabdiannya di militer.

“Menurut wawancara dengan banyak prajurit aktif, prajurit cadangan, dan kelompok advokasi, banyak anggota militer mengalami setres berat atas tekanan publik di dalam maupun luar negeri yang mempertanyakan tujuan perang AS terhadap Iran. Para prajurit juga mengalami kerentanan atas rasa frustrasi di tengah meningkatnya perlawanan Iran atas agresi Amerika Serikat dan sekutunya Israel,” begitu dalam laporan Huff Post yang dikutip dari Palestines Chronicle, Selasa (24/3/2026).

Seorang pejabat militer yang bertugas dalam merawat psikologis para serdadu AS, kepada Huff Post menyampaikan, banyak personel perang Paman Sam yang ditarik dari negara-negara Timteng dan dievakuasi ke Jerman, mengalami dampak kejiwaan rentan.

Bahkan dikatakan, banyak yang mengalami keruntuhan moralitas akibat mengalami dampak langsung dari serangan-serangan drone, dan misil-misil Iran yang ditembakkan ke pangkalan-pangkalan militer AS di banyak negara Timteng.

“Perencanaan militer saat ini tidak cukup melindungi pasukan,” begitu kata pejabat militer tersebut.

“Kita bahkan tidak bisa sepenuhnya mempertahakan satu pangkalan di medan perang saat ini,” kata pejabat itu.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

Berita Lainnya

Rekomendasi