Sabtu 21 Mar 2026 13:53 WIB

Bangkit dari Bencana, Warga Selingkar Danau Maninjau Tetap Gelar Tradisi Rakik-Rakik

Danau Maninjau jadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi.

Foto udara ikan karamba jaring apung mati di Danau Maninjau, Agam, Sumatera Barat, Selasa (27/1/2026). Hal tersebut terjadi karena dampak angin kencang yang mengakibatkan pembalikan air dari dasar ke permukaan, sehingga udara berkurang dan ikan mati kekurangan oksigen.
Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Foto udara ikan karamba jaring apung mati di Danau Maninjau, Agam, Sumatera Barat, Selasa (27/1/2026). Hal tersebut terjadi karena dampak angin kencang yang mengakibatkan pembalikan air dari dasar ke permukaan, sehingga udara berkurang dan ikan mati kekurangan oksigen.

REPUBLIKA.CO.ID, AGAM – Cahaya lampu hias dan dentuman meriam bambu kembali memecah kesunyian malam takbiran di tepian Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Jumat malam. Meski masih dalam masa pemulihan pascabencana banjir bandang dan longsor November lalu, warga setempat tetap teguh menyelenggarakan festival tradisional rakik-rakik (rakit hias).

Festival tahun ini terasa berbeda karena hanya diikuti oleh dua jorong, yakni Jorong Kubu Baru Panyinggahan dan Jorong Pasa, dari total lima jorong yang ada di Nagari Maninjau. Kendala teknis dan kondisi pascabencana menjadi alasan berkurangnya partisipasi peserta tahun ini.

Baca Juga

Wali Jorong Kubu Baru Panyinggahan, Yudha Anugrah Viligo, mengungkapkan bahwa keputusan untuk tetap turun ke danau diambil sebagai upaya pemulihan psikologis warga.

"Biasanya tiap jorong membuat satu rakik. Namun tahun ini, meski kondisi pascabencana, kami tetap laksanakan sebagai 'obat' trauma sekaligus menjaga tradisi agar tidak hilang," ujar Yudha di sela-sela kegiatan.

Antusiasme warga mulai terlihat sejak pukul 21.00 WIB. Sebuah rakit sepanjang 10 meter yang dihiasi miniatur rumah adat Minangkabau, bendera, dan lampu warna-warni mulai berlayar sekitar pukul 22.30 WIB setelah sempat terkendala hujan deras pada sore harinya.

Kehadiran rakik-rakik ini disambut hangat oleh masyarakat yang rindu akan suasana kemenangan Idulfitri. Bagi warga seperti Riani, tradisi ini adalah nyawa dari perayaan hari raya di Maninjau.

“Kalau tidak ada ini, malam takbiran terasa sepi. Rasanya seperti tidak lebaran, apalagi kami baru saja tertimpa bencana,” tuturnya.

Suasana semakin semarak dengan iringan musik tambua tansa yang dimainkan para pemuda di atas rakit, diselingi bunyi dentuman meriam bambu (batuang) yang menggunakan karbit. Cahaya dari ornamen rakit yang memantul di permukaan danau menciptakan pemandangan ikonik yang menjadi ciri khas Maninjau setiap tahunnya.

Tradisi ini rencananya akan berlangsung selama dua malam, yaitu pada malam takbiran dan malam pertama Lebaran. Meski jumlah penonton sedikit berkurang dibanding tahun sebelumnya, kerumunan warga diprediksi akan terus bertambah hingga menjelang subuh.

Bagi masyarakat selingkar Danau Maninjau, festival rakik-rakik tahun ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan simbol resiliensi dan semangat kebersamaan untuk bangkit dari duka bencana.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement