Oleh: Dedi Saputra, Dosen Prodi Informatika, Universitas Bina Sarana Informatika Kampus Pontianak
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah dunia yang semakin dikendalikan teknologi, kecerdasan buatan, dan algoritma yang mampu memproses miliaran data dalam hitungan detik, ada satu peristiwa spiritual yang tidak dapat dihitung mesin apa pun: Lailatul Qadar.
Malam yang disebut dalam Alquran sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan ini menjadi pengingat bahwa di balik kecanggihan teknologi, manusia tetap membutuhkan dimensi spiritual yang tidak bisa digantikan perangkat digital.
Alquran menegaskan dalam Surah Al-Qadr ayat 3, “Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.” Ayat ini menegaskan, satu malam penuh ibadah dapat memiliki nilai yang lebih besar daripada puluhan tahun kehidupan manusia.
Dalam tafsir klasik, ulama besar Ibnu Katsir menjelaskan, amal kebaikan yang dilakukan pada malam tersebut lebih baik dibandingkan amal yang dilakukan selama seribu bulan tanpa Lailatul Qadar.
Pesan ini menunjukkan, dalam perspektif spiritual, kualitas waktu jauh lebih penting daripada kuantitas waktu. Menariknya, pesan Lailatul Qadar justru semakin relevan di era teknologi modern.
Manusia hari ini hidup dalam dunia yang tidak pernah benar-benar berhenti. Internet, media sosial, dan perangkat pintar membuat manusia terus terhubung selama 24 jam.
Informasi bergerak cepat, pekerjaan semakin kompleks, dan kehidupan sering kali terasa semakin padat. Namun, di balik kecepatan itu, banyak orang merasakan kelelahan mental dan kehilangan ketenangan batin.
Cendekiawan Muslim Indonesia Prof M Quraish Shihab menjelaskan, kemuliaan Lailatul Qadar adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dipahami akal manusia. Nilai spiritual malam tersebut melampaui ukuran logika dan perhitungan manusia.
Jika diibaratkan dengan dunia teknologi, bahkan superkomputer sekalipun tidak akan mampu mengukur keberkahan malam tersebut secara matematis. Di sinilah Lailatul Qadar menjadi semacam “jeda spiritual” bagi manusia modern.
Ketika dunia digital terus bergerak tanpa henti, malam ini mengajak manusia berhenti sejenak, menundukkan hati, dan kembali kepada Tuhan. Dalam keheningan doa dan ibadah, manusia menemukan sesuatu yang tak pernah bisa diberikan teknologi: kedamaian jiwa.
Refleksi tentang hubungan antara teknologi dan spiritualitas juga menjadi perhatian dalam dunia pendidikan teknologi informasi.
Di Program Studi Informatika Universitas BSI Kampus Pontianak, misalnya, mahasiswa tidak hanya belajar tentang pemrograman, jaringan komputer, atau kecerdasan buatan.
Kurikulum yang diajarkan menanamkan nilai-nilai etika, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa teknologi harus digunakan untuk kebaikan umat manusia.
Mata kuliah seperti Artificial Intelligence, Internet of Things, Rekayasa Perangkat Lunak, hingga Etika Profesi di Bidang Teknologi Informasi menjadi bagian penting dalam membentuk generasi teknologi yang tidak hanya cerdas secara teknis, juga memiliki kesadaran moral.
Dalam konteks ini, nilai-nilai spiritual seperti yang diajarkan dalam Ramadhan—termasuk makna Lailatul Qadar—dapat menjadi landasan penting bagi mahasiswa untuk memahami, teknologi seharusnya memperkuat nilai kemanusiaan, bukan justru menjauhkan manusia dari makna hidup.
Para mahasiswa informatika pada akhirnya akan menjadi arsitek masa depan dunia digital. Mereka akan merancang sistem, algoritma, dan teknologi yang mungkin akan digunakan oleh jutaan orang.
Karena itu, pemahaman tentang nilai spiritual dan etika menjadi sangat penting agar teknologi berkembang sejalan dengan nilai kemanusiaan dan moralitas.
Lailatul Qadar memberikan pelajaran yang sangat dalam bagi generasi teknologi: bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat diukur dengan angka, data, atau algoritma. Ada nilai-nilai yang hanya dapat dirasakan hati yang tenang dan jiwa yang berserah kepada Tuhan.
Di tengah dunia yang semakin digital, mungkin justru malam seperti Lailatul Qadar yang paling dibutuhkan manusia modern. Sebuah malam yang mengingatkan bahwa di balik kecanggihan teknologi, manusia tetaplah makhluk spiritual yang membutuhkan doa, harapan, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Karena pada akhirnya, teknologi boleh terus berkembang, tetapi cahaya spiritual dalam diri manusia tetap menjadi kompas yang menuntun arah peradaban.