REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Denpasar mengutamakan penyelenggaraan pasar murah sebagai instrumen utama pengendalian inflasi jangka pendek dalam menghadapi momentum Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Deputi Kepala Perwakilan BI Bali, Ronald D. Parluhutan, menyatakan apresiasinya atas komitmen kepala daerah dalam memperkuat pengendalian inflasi melalui TPID. Selain pasar murah, strategi yang ditempuh mencakup penguatan kerja sama ekonomi antarkabupaten atau kota di Bali dan provinsi lain, serta sosialisasi publik.
"Untuk jangka panjang, upaya difokuskan pada penguatan ketahanan pasokan dan koordinasi kebijakan," katanya di Denpasar, Jumat.
BI Bali optimistis intervensi tersebut mampu menjaga inflasi dalam rentang sasaran 1,5 hingga 3,5 persen sepanjang 2026. Dalam pelaksanaannya, Bulog Bali turut berpartisipasi melalui operasi pasar dan gerakan pangan murah bersama perangkat daerah anggota TPID. Stok beras Bulog di Bali mencapai 15.000 ton, setara dengan kebutuhan 2,5 bulan pada hari biasa.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyoroti ketersediaan bahan makanan yang belum sepenuhnya stabil akibat cuaca ekstrem. Selain itu, dinamika global seperti konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia yang dapat berdampak pada biaya transportasi dan harga komoditas lainnya.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengakui bahwa situasi global tersebut perlu diantisipasi. Namun, ia optimistis upaya pengendalian inflasi yang dilaksanakan secara konsisten melalui koordinasi lintas instansi dapat menekan potensi lonjakan harga.
Polres Bangka Gelar Pasar Murah Antisipasi Lonjakan Harga
Di Bangka Belitung, Kepolisian Resor (Polres) Bangka menggelar Gerakan Pasar Murah (GPM) di Kota Sungailiat guna memastikan warga peroleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau menjelang Lebaran. Kapolres Bangka AKBP Deddy Dwitiya Putra menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat.
"GPM ini dibutuhkan karena menjual kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, sementara menjelang Lebaran harga di pasar berpotensi mengalami peningkatan," ujarnya di Sungailiat, Jumat.
Komoditas yang dijual meliputi 300 butir telur seharga Rp1.000 per butir, lebih murah dibandingkan harga pasar yang mencapai di atas Rp1.500 per butir. Selain itu, tersedia 3 ton beras SPHP dan 360 liter MinyaKita.
Kapolres mengingatkan masyarakat agar tidak panik menghadapi prediksi kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran.
Pramono Tinjau Pasar Murah di Kepulauan Seribu
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo meninjau pelaksanaan pasar murah di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, untuk memastikan masyarakat di kawasan tersebut mendapatkan pangan dengan harga terjangkau. Sebanyak 1.000 paket sembako disediakan dengan harga subsidi; masyarakat cukup membayar Rp50.000 dari harga normal Rp100.000 per paket.
"Saya meyakini bahwa program yang dilakukan Pemerintah DKI Jakarta, bekerja sama dengan BUMD, untuk memberikan paket pasar murah ini sangat efektif," ujar Pramono di Pulau Pramuka, Jumat.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo menjelaskan bahwa kenaikan harga pangan umumnya terjadi pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan cenderung membentuk pola siklus. Karena itu, TPID bersama dinasnya mengadakan pasar murah sebagai upaya stabilisasi harga dan pengendalian inflasi.




