REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Guru besar Intitute Pertanian Bogor (IPB) yang juga Rektor Perbanas Institute, Hermanto Siregar mengatakan, saat ini ketersediaan dan produksi pangan Indonesia mencukupi.
Hal ini disampaikan Hermanto menanggapi pertanyaan tentang perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Perang ini dikhawatirkan efeknya akan juga dirasakan Indonesia. Terutama dalam hal ketersediaan pangan nasional. “Ketersediaan dan produksi pangan Indonesia mencukupi,” kata Hermanto.
Perang di Timur Tengah tersebut dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga minyak dunia. Dengan kondisi ini, menurut Hermanto, harus diantisipasi pemerintah dengan memastikan ketersediaan BBM yang mencukupi dan pendistribusian yang lancar. Langkah ini juga diikuti dengan mengakselerasi produksi sumber energi non-minyak, terutama yang renewable (terbarukan).
“Kalau perlu MBG dikurangi signifikan, agar produksi dan cadangan energi mencukupi, mengantisipasi kenaikan harga BBM,” ungkapnya.
Diingatkannya, dalam kondisi krisis energi, tidak hanya hanya harga BBM yang tinggi, tapi juga harga pangan. Sehingga bila masalah tersebut diantisipasi dengan baik justru bisa menjadi peluang bagi petani tanaman pangan Indonesia.
“Produksi tanaman pangan kita agar dipacu. Lalu BULOG harus lebih aktif melakukan pengadaan beras dan bahan pangan lain, sehingga stok di gudang-gudangnya mencukupi, dan senantiasa siap melaksanakan operasi pasar,” papar Hermanto.
Dalam implementasinya, lanjut Hermanto, pemerintah agar menggandeng sektor swasta. Dengan tata kelola yang baik, kebijakan ini dapat dilakukan secara efisien dan efektif.