Kamis 19 Feb 2026 09:20 WIB

Dasco Pimpin Rapat Penetapan Kembali Sahroni ke Kursi Wakil Ketua Komisi 3 DPR

Sahroni janji bakal berperilaku lebih baik ke depannya.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad (tengah) berfoto bersama Ahmad Sahroni (dua kiri) dan jajaran pimpinan Komisi III DPR RI lainnya di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Foto: ANTARA/HO-DPR/aa.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad (tengah) berfoto bersama Ahmad Sahroni (dua kiri) dan jajaran pimpinan Komisi III DPR RI lainnya di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (19/2/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota DPR RI Ahmad Sahroni kembali ditetapkan sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI, setelah sebelumnya mendapatkan sanksi penonaktifan oleh partainya dan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI, karena persoalannya beberapa waktu lalu.

Sahroni ditetapkan kembali menjadi Pimpinan Komisi III DPR RI oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad selaku Pimpinan DPR RI yang membidangi urusan Politik, Hukum, dan Keamanan. Adapun Komisi III DPR RI membidangi urusan penegakan hukum.

Ahmad Sahroni pada akhir Agustus 2025 dicopot oleh Fraksi Partai NasDem DPR RI dari jabatannya sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI menjadi anggota biasa di Komisi I DPR RI. Pencopotan itu pun dilakukan di tengah-tengah sorotan publik kepada Sahroni, buntut pernyataannya yang menuai kontroversi.

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem juga kemudian menonaktifkan Sahroni dan Nafa Urbach dari DPR RI karena kontroversinya itu. NasDem saat itu menyatakan bahwa pernyataan yang menyinggung dan mencederai perasaan rakyat merupakan penyimpangan terhadap perjuangan Partai NasDem.

Apa selengkapnya pernyataan Sahroni ketika itu? Berikut kutipannya:

"Mental orang tertolol sedunia. Catat tuh! orang yang cuma mental bilang bubarin DPR adalah orang yang paling tolol sedunia. Bubarin DPR, kadang-kadang nih ya masyarakat boleh kritik boleh komplain boleh caci maki nggak apa-apa, kita terima. Tapi ada adat istiadat yang mesti disampaikan Apakah dengan bubarkan DPR emang meyakinkan masyarakat bisa menjalani proses pemerintahan sekarang ini. Belum tentu.

Maka jangan menyampaikan hal-hal yang seenaknya bubarin DPR. Jangan. Memang nggak ngomong itu rata-rata orang yang nggak pernah duduk di DPR. Kita boleh dikritik mau bilang anjing, babi bangsat, nggak apa-apa.

Mampus, mampus nggak papa.

Tapi ingat bahwa kita selaku wakil rakyat juga punya kerja-kerja, punya empati, jangan merasa bahwa komplainan, silahkan kritik mau ngapain aja boleh tapi jangan mencaci maki berlebihan itu karena merusak mental. Mental manusia yang begitu adalah mental orang tolol sedunia.

Catat nih orang yang cuma mental bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia. Kenapa kita memang orang pintar semua? enggak bodoh semua kita tapi ada tata cara kelola bagaimana menyampaikan kritik yang harus dievaluasi oleh kita.

Kita memang belum tentu benar belum tentu hebat enggak. Tapi minimal kita memiliki kerja kerja masyarakat yang mumpuni untuk teman-teman masyarakat semuanya. Jangan dikit-dikit DPR ngomongin masalah ini dihujat, ini dihujat enggak apa-apa. Mau mengkritik sampai mampus juga enggak apa-apa. Masih Berdiri DPR-nya sampai kapanpun tidak akan berubah, sama aja."

Sahroni mengatakan hal ini menyusul warganet yang memprotes di media sosial soal anggota DPR yang berjoget-joget mendapat tunjangan perumahan. Warganet menilai anggota DPR tidak berempati di tengah situasi kesulitan ekonomi masyarakat. Muncul seruan untuk membubarkan saja DPR yang baru terpilih.

Selanjutnya, MKD DPR RI memutuskan untuk menjatuhkan hukuman berupa nonaktif selama enam bulan, berlaku sejak putusan dibacakan yang dihitung sejak penonaktifan yang bersangkutan sebagaimana keputusan DPP Partai NasDem.

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi