Sabtu 03 Jan 2026 14:02 WIB

BREAKING NEWS: Banyak Ledakan di Caracas, AS Mulai Serang Venezuela?

Presiden Trump mengeklaim pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela.

Asap mengepul di bandara La Carlota setelah ledakan dan pesawat terbang rendah terdengar di Caracas, Venezuela, Sabtu, 3 Januari 2026.
Foto: AP Photo/Matias Delacroix
Asap mengepul di bandara La Carlota setelah ledakan dan pesawat terbang rendah terdengar di Caracas, Venezuela, Sabtu, 3 Januari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS – Sejumlah ledakan besar terdengar di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu waktu setempat. Sementara pesawat-pesawat tempur terdengar terbang rendah di negara yang belakangan jadi sasaran militer Amerika Serikat tersebut.

Seorang koresponden Al Jazeera melaporkan mendengar suara pesawat tempur dan ledakan, serta kepulan asap membubung di ibu kota Venezuela, Caracas.  Koresponden menambahkan bahwa ledakan terjadi di berbagai bagian kota.

Baca Juga

Reuters melaporkan bahwa listrik padam di daerah dekat pangkalan militer di selatan ibu kota, tanpa komentar resmi dari pihak berwenang Venezuela.

Associated Press melaporkan Pemerintah Venezuela menuduh Amerika Serikat menyerang instalasi sipil dan militer di beberapa negara bagian setelah setidaknya tujuh ledakan dan pesawat terbang rendah terdengar sekitar pukul 02.00 waktu setempat pada Sabtu di ibu kota, Caracas.

Asap terlihat mengepul dari hanggar pangkalan militer di Caracas. Instalasi militer lainnya di ibu kota tidak mendapat aliran listrik. Orang-orang di berbagai lingkungan bergegas ke jalan.

Beberapa dapat dilihat dari kejauhan dari berbagai wilayah di Caracas. "Seluruh tanah berguncang. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan pesawat terbang," kata Carmen Hidalgo, seorang pekerja kantoran berusia 21 tahun, suaranya bergetar. Dia berjalan cepat bersama dua kerabatnya, kembali dari pesta ulang tahun. “Kami merasa seperti udara menerpa kami.” 

Hal ini terjadi ketika militer AS dalam beberapa hari terakhir menargetkan kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba. Pada Jumat, Venezuela mengatakan pihaknya terbuka untuk merundingkan perjanjian dengan Amerika Serikat untuk memerangi perdagangan narkoba. 

CBS News melaporkan bahwa para pejabat di pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengetahui laporan soal ledakan dan pesawat yang terbang di atas Caracas. “Presiden Trump memerintahkan serangan terhadap lokasi di dalam wilayah Venezuela, termasuk fasilitas militer,” ujar jurnalis CBS Jennifer Jacobs di X, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Reuters mengatakan mereka diberitahu oleh seorang pejabat AS, yang tidak ingin disebutkan namanya, bahwa AS melakukan serangan di Venezuela pada hari Sabtu. 

Presiden AS Donald Trump kemudian mengakui Amerika Serikat telah melakukan “serangan besar-besaran” terhadap Venezuela pada Sabtu. Ia juga mengatakan pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

"Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya, ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Operasi ini dilakukan bersama dengan Penegak Hukum AS," tulis Trump dalam sebuah postingan di Truth Social. CBS News melaporkan bahwa penangkapan terhadap Maduro dan istrinya dilakukan komando elite AS, Delta Force.

Donald Trump selama berbulan-bulan telah mengancam bahwa ia akan segera memerintahkan serangan terhadap sasaran-sasaran di wilayah Venezuela. AS juga telah menyita kapal tanker minyak yang terkena sanksi di lepas pantai Venezuela, dan Trump memerintahkan blokade terhadap kapal tanker lain dalam sebuah tindakan yang tampaknya dirancang untuk memberikan tekanan yang lebih ketat pada perekonomian negara Amerika Selatan tersebut.

Militer AS telah menyerang kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur sejak awal September. Pada hari Jumat, jumlah serangan kapal yang diketahui adalah 35 dan jumlah orang yang tewas setidaknya 115, menurut angka yang diumumkan oleh pemerintahan Trump.

Perkembangan ini juga dibarengi penumpukan besar pasukan Amerika di perairan Amerika Selatan, termasuk kedatangan kapal induk tercanggih di Amerika pada bulan November. Kedatangan kapal itu menambah ribuan tentara lagi yang merupakan kehadiran militer terbesar di wilayah tersebut selama beberapa generasi.

Trump membenarkan penempatan kapal tersebut sebagai tindakan eskalasi yang diperlukan untuk membendung aliran narkoba ke Amerika Serikat dan menegaskan bahwa Amerika terlibat dalam “konflik bersenjata” dengan kartel narkoba.

photo
Peta pergerakan militer AS di Laut Karibia pada Npvember 2025. - (Reuters)
 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement