REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Prabowo Subianto menerima laporan terkini dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terkait situasi lapangan di tiga provinsi terdampak bencana. Dia menyampaikan alasan mengapa belum semua daerah terkena bencana sudah dialiri pasokan listrik.
"Jadi Pak Presiden, listrik desa ini seperti kemarin di Sumatra Utara, masih ada beberapa, sekalipun listriknya sudah 99,9 persen. Tapi masih ada kurang lebih sekitar hampir 50 desa di 4 kabupaten yang belum ada listrik," kata Bahlil di Sidang Kabinet Paripurna, Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2025).
Menurut Bahlil, ada desa yang memang belum teraliri listrik sebelumnya, dan bukan karena faktor bencana alam. "Ternyata itu bukan karena persoalan banjir saja, tapi memang jaringan listrik kita yang belum ada di sana," kata ketua umum DPP Partai Golkar itu.
Selain itu, Bahlil menegaskan, penyaluran listrik, khususnya ke sejumlah desa tidak dapat dipaksakan sebelum kondisi dinyatakan aman. Langkah itu ditempuh guna mencegah risiko kecelakaan dan menjaga keselamatan masyarakat.
"Kami laporkan bahwa belum bisa teraliri semua kepada desa-desa yang ada, karena sebagian desa-desa yang infrastrukturnya masih parah, jalan yang nggak bisa kita masuk, itu pada tegangan rendah, itu tiang-tiangnya jatuh dan ada sebagian desa yang memang masih banjir, masih ada air," kata Bahlil.
Dengan kondisi di lapangan belum memungkinkan, sambung dia, PT PLN tidak memaksakan untuk memulihkan pasokan listrik ke wilayah tertentu. "Kalau ini kita paksakan untuk dialiri listrik, itu akan berdampak pada kecelakaan (tersetrum) di masyarakat," ucap Bahlil.
Sebelumnya, Bahlil mendapat sorotan dan kritikan dari masyarakat setelah membuat laporan kepada Prabowo aliran listrik di Provinsi Aceh sudah menyala 93 persen per 7 Desember 2025. Kenyataan di lapangan, sebagian besar wilayah terdampak bencana masih belum merasakan aliran listrik yang pada malam hari.