Rabu 10 Dec 2025 15:20 WIB

Prof Bayu Krisnamurthi Ingatkan Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Sawit bukan hutan, tetapi sebagai komoditas strategis yang punya kontribusi ekonomi.

Lahan sawit milik BUMN (ilustrasi)
Foto: PTPN Group
Lahan sawit milik BUMN (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polemik posisi kelapa sawit dalam ekosistem dan perekonomian kembali mencuat. Guru Besar Kebijakan Agribisnis IPB University, Bayu Krisnamurthi mengingatkan, pentingnya tata kelola berkelanjutan agar bisa meminimalkan risiko yang timbul dari perkebunan sawit.

Bayu menegaskan, sawit memang bukan hutan, tetapi sebagai komoditas strategis yang memiliki kontribusi ekonomi luar biasa bagi masyarakat. Hal itu sekaligus tetap memiliki fungsi ekologis tertentu yang tidak boleh diabaikan.

Baca Juga

Menurut dia, sawit adalah pohon yang dapat tumbuh besar hingga berumur puluhan tahun dan mampu menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesis. Kelebihan lainnya adalah sawit juga bisa menyimpan karbon dalam batang pohonnya, serasahnya, dan buahnya.

"Di mana akar-akar dan tajuk pohon sawit menjaga tanah tempat tumbuhnya. Pohon sawit secara alamiah juga tumbuh di dalam hutan," kata Bayu dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (10/12/2025).

Bayu menjelaskan, kebun sawit memang berbeda dengan hutan alam tropis. Menurut dia, kebun sawit yang memiliki sifat monokultur tidak bisa disamakan dengan hutan alam tropis yang majemuk, bertingkat tingkat, dengan aneka ragam pohon dan tanaman.

"Kebun sawit tidak sama dengan hutan alam dalam keanekaragaman hayatinya, dalam kemampuan ekologisnya, dalam kemampuan hidrologisnya," jelas wakil menteri perdagangan (wamendag) periode 2011-2014 itu.

Meski demikian, Bayu menggarisbawahi, manfaat ekonomi sawit bagi masyarakat dan menambah pendapatan daerah. "Kebun sawit punya kelebihan dalam memberi pendapatan bagi pekebunnya, mengentaskan kemiskinan, menyediakan produk yang dibutuhkan masyarakat, dan mengembangkan daerah," ucap Bayu.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement