Senin 04 Dec 2023 14:35 WIB

BKKBN Optimistis Prevalensi Stunting Turun Jadi 14 Persen pada 2024

Saat ini prevalensi stunting angkanya di 21,6 persen.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan gerakan makan telur dan minum susu di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (25/11/2023). Gerakan kampanye yang diikuti 300 siswa tersebut upaya untuk pemenuhan gizi protein hewani guna mencegah stunting serta membentuk generasi yang unggul dan berkualitas.
Foto: ANTARA FOTO/Henry Purba
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan gerakan makan telur dan minum susu di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (25/11/2023). Gerakan kampanye yang diikuti 300 siswa tersebut upaya untuk pemenuhan gizi protein hewani guna mencegah stunting serta membentuk generasi yang unggul dan berkualitas.

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) optimistis angka prevalensi stunting atau kekerdilan yang dialami anak-anak usia bawah lima tahun (balita) secara nasional mengalami penurunan menjadi 14 persen pada 2024.

 

Baca Juga

"Kami optimistis angka prevalensi stunting bisa turun mencapai 14 persen di tahun 2024," kata Direktur Kesehatan Reproduksi BKKBN Marianus Mau Kuru saat Sosialisasi Percepatan Penurunan Stunting bagi Calon Pengantin dan Pasangan Baru Provinsi Banten di Lebak, Banten, Senin (4/12/2023).

 

 

Hal itu, kata dia, karena adanya kerja sama antar lembaga negara dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun swasta dan pihak terkait lainnya untuk mengintervensi stunting dari pusat hingga ke desa-desa.

 

BKKBN menargetkan pada akhir tahun 2023 prevalensi stunting bisa menembus 17,8 persen. Hari ini, kata dia, angkanya di 21,6 dan dipastikan secara nasional bisa tercapai 14 persen tahun 2024.

 

Ia mengatakan kasus stunting di Indonesia yang masih tinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Barat (Sulbar).  Karena itu mengapresiasi penanganan stunting di Provinsi Banten. "Hanya masih tinggi di dua daerah yakni Kabupaten Pandeglang dan Lebak," katanya.

 

Menurut Marianus, kegiatan sosialisasi penurunan stunting itu tentu dilakukan dari hulu mulai remaja, calon pengantin, hingga kehamilan dan kesehatan bayi. Karena itu, calon pengantin harus dipersiapkan bagaimana membangun rumah tangga agar melahirkan generasi unggul dan tidak melahirkan anak stunting.

 

Para calon pengantin, lanjutnya, sebelum menikah wajib tercatat dalam aplikasi Eksimil, sehingga dalam membangun rumah tangga dapat pembinaan dan edukasi, seperti mengkonsumsi makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan rutin, dan jarak kelahiran anak minimal 3-4 tahun.

 

"Kami berharap para calon pengantin dan pasangan usia subur  yang siap membangun rumah tangga nantinya, tidak melahirkan anak stunting untuk mempersiapkan generasi emas tahun 2045," katanya.

 

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten Rusman Effendi mengatakan saat ini angka prevalensi di Banten terjadi penurunan dari 25,6 persen pada 2021 menjadi 20 pada 2023.

 

"Kami optimistis angka prevalensi 14 persen tahun 2024 bisa terealisasi dengan penanganan dilakukan dari hulu," ucapnya.

 

Sementara itu, pasangan calon pengantin Opa dan Arif, warga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengatakan kemungkinan mengelar pernikahan Desember 2023 dan masuk aplikasi Eksimil sehingga mendapatkan pembinaan dan edukasi bagaimana untuk rumah tangga yang sakinah dan tidak melahirkan anak stunting.

 

"Kami sudah dilakukan pembinaan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) untuk persiapan pernikahan, juga dari pemerintah daerah," katanya.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement