Rabu 20 Sep 2023 08:48 WIB

Upaya Turunkan Inflasi, Pemkot Bogor Gelar Gerakan Pangan Murah

Gerakan ini digelar untuk mendekatkan harga pangan terjangkau kepada masyarakat.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Ani Nursalikah
 Orang-orang berbelanja sayuran di pasar tradisional di Bogor,  Rabu (3/5/2023).
Foto: EPA-EFE/BAGUS INDAHONO
Orang-orang berbelanja sayuran di pasar tradisional di Bogor, Rabu (3/5/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Taman Manunggal, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Selasa (19/9/2023). GPM ini digelar untuk mendekatkan harga pangan terjangkau kepada masyarakat agar terus menjaga inflasi di Kota Bogor.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor yang juga Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Bogor, Syarifah Sofiah, mengatakan GPM ini berkolaborasi bersama Badan Pangan Nasional dan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat. Ada berbagai bahan pangan murah yang dijual di bawah harga pasaran diantaranya, beras, minyak goreng, daging, sayur, bumbu dapur, ikan, buah-buahan dan berbagai makanan olahan produk UMKM.

Baca Juga

“Mudah-mudahan setelah kegiatan ini harga berasnya bisa dikendalikan lagi. Karena memang Kota Bogor ini bukan produsen, jadi bergantung ke wilayah lain sehingga kerja sama seperti ini perlu terus dilakukan. Mudah-mudahan ini bisa menurunkan harga pangan,” kata Syarifah, Selasa (19/9/2023).

Pada GPM di wilayah Bogor Barat ini ada 58 UMKM binaan wilayah di Kota Bogor dan 12 UMKM binaan Provinsi Jawa Barat dengan total sekitar 30 stan lebih. Dalam GPM ini juga dilaksanakan gerakan selamatkan pangan dan tidak boros pangan yang dilaksanakan melalui Food Truck dari Badan Pangan Nasional dan Foodbank.

 

Selain GPM, lanjut dia, Kota Bogor juga secara rutin menggelar bazar murah dengan Dinas KUKM Daging secara berkala. “Tujuannya adalah mendekatkan harga pangan terjangkau kepada masyarakat untuk terus menjaga inflasi di Kota Bogor,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Analis Ketahanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Denny Eswant Kosasih, mengatakan dari data Badan Pusat Statistik Nasional pada Agustus, inflasi nasional berada di angka 3,27, naik dari 3,08 di bulan sebelumnya.

“Penyebabnya bisa jadi dikarenakan kenaikan beras. Karena kalau kita lihat, data harga rata-rata nasional kemarin tanggal 18 September harga beras premium itu Rp 15.600 per kilogram, itu di atas harga eceran tertinggi (HET), beras medium Rp 13.500 per kilogram itu juga diatas HET dan jagung Rp 7.000 itu diatas harga acuan pemerintah,” katanya.

Dari data itu, lanjut Denny, maka perlu energi dan kerja sama untuk bersinergi dan berkolaborasi mengendalikan harga pangan, termasuk beras. Dengan mengadakan gerakan pangan murah di Jawa Barat, Kota Bogor bahkan di seluruh Indonesia.

“Sampai saat ini Badan Pangan Nasional secara nasional sudah 750 kali GPM, dari Januari sampai September di 35 provinsi, 315 kabupaten/kota. Mudah-mudahan terus berlanjut dan ditingkatkan,” katanya.

Ia berharap gerakan ini bisa bermanfaat untuk terus meningkatkan GPM dan menstabilkan pasokan dan harga pangan termasuk harga beras. Harga beras pada kegiatan ini dibanderol dengan harga Rp 53 ribu per 5 kilogram, sedangkan di pasaran sudah Rp 13 ribu per kilogram.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement