Sabtu 15 Jul 2023 09:56 WIB

Mantan Komandan NII KW IX: Saatnya Dewasa Sikapi Kegagalan Proyek NII Al Zaytun

Lebih dewasa sikapi Al Zaytun

Aparat kepolisan ketika berja pintu masuk Mahad Al-Zaytun, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu. (ilustrasi).
Foto:

AJARAN NII AL-ZAYTUN

Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Itulah peribahasa yang tepat untuk menggambar kedurhakaan NII Al-Zaytun kepada dunia intelejen.

Lebih durhaka dari Si Malin Kundang. Bukan hanya melawan orang tua yang diajarkan di NII Al-Zaytun, bahkan mereka mengafiri dan mencuri harta orang tua karena menganggap orang tua mereka kafir tersebab belum berbaiat kepada Panji Gumilang yang dinobatkan mereka sebagai khalifah.

NII Al-Zaytun bukan membina kalangan yang berpemikiran radikal yang telah terekrut, justru membinalkan. Memantik kebencian jamaah pengikutnya kepada negara. Merusak ajaran agama dari dasar hingga puncaknya. Bahkan memelihara dan mengaderisasi generasi muda secara kontinyu dan terprogram sebagai militan untuk mengudeta negara di suatu waktu.

Jelas semua ini program yang merusak bukan memperbaiki. Mereka mengajarkan membuat negara di dalam negara. Menjadikan orang beragama layaknya penista agama. Bahkan menjadi musuh agama.

Rakyat adalah kumpulan orang-orang yang wajib dilindungi. Keberadaan pemimpin dan eksistensinya murni dukungan dari rakyat. Bukan saja faktor sosial-ekonomi yang dibutuhkan rakyat, tapi spiritualisme keberagamaan yang kondusif dan sehat wajib dijaga oleh pemerintah. Intelejen memiliki peran yang strategis untuk mewujudkan semua itu.

Baca di halaman berikutnya...

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement