Sabtu 01 Apr 2023 20:39 WIB

Dinkes: Orang Tua Perhatikan Air Bersih dan Jamban untuk Cegah Stunting

Kurang lebih 500 anak masih mengidap kekerdilan di Biak.

Pencegahan stunting penting dilakukan sebelum anak lahir. (ilustrasi)
Foto: www.freepik.com
Pencegahan stunting penting dilakukan sebelum anak lahir. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BIAK -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Biak Numfor, Papua mengajak orang tua memperhatikan ketersediaan air bersih dan jamban di rumah untuk mencegah kasus stuntingpada anak.

"Kasus stunting anak muncul karena keterbatasan akses air bersih dan ketiadaan jamban di rumah sehingga ke depan setiap rumah harus terpenuhi kebutuhan dasar warga," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Biak Numfor Ruslan Epid di Biak, Sabtu (1/4/2023).

Baca Juga

Dia menjelaskan untuk mencegah stunting bukan saja terkait dengan pemenuhan asupan nutrisi dan gizi, tetapi akses air bersih dan jamban keluarga juga mempunyai peran penting. Ruslan mengharapkan, dinas terkait dapat memperhatikan ketersediaan air bersih untuk warga di berbagai kampung sehingga mendukung pencegahan stunting anak.

"Cara paling sederhana memenuhi air bersih membuat penampung air hujan di rumah," kata dia.

 

Terkait dengan kebutuhan jamban keluarga, lanjut dia, untuk mengedukasi warga sejumlah kampung dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia mengatakan kolaborasi terus-menerus bersama pemangku kepentingan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor yang terjalin dengan baik akan dapat berhasil mengendalikan kasus stunting anak.

"Mewujudkan kebersihan lingkungan yang sehat menjadi masalah utama diperhatikan warga kampung karena dapat mengatasi pencegahan penyakit," kata dia.

Upaya lain dilakukan mengatasi stunting anak, kata dia, memberikan asupan gizi, rutin memeriksakan tumbuh kembang anak ke fasilitas kesehatan, seperti posyandu, puskesmas, dan rumah sakit.

Berdasarkan data pencegahan stunting dilakukan Pemkab Biak Numfor, sejak lima tahun terjadi penurunan stunting, yakni tahun 2018 sebesar 20,24 persen, turun pada 2022 menjadi sebesar 6,59 persen atau kurang lebih 500 anak masih mengidap kekerdilan.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement