Selasa 28 Mar 2023 05:07 WIB

Frekuensi Bencana Mulai Menurun, BNPB: Curah Hujan Tinggi Tetapi Singkat

Bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi pada minggu ini.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Friska Yolandha
Warga melintasi jalan yang tergenang banjir di Desa Dalam Pagar Ulu, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Senin (27/2/2023). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat frekuensi kejadian bencana mingguan pekan ketiga Maret mulai menurun.
Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Warga melintasi jalan yang tergenang banjir di Desa Dalam Pagar Ulu, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Senin (27/2/2023). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat frekuensi kejadian bencana mingguan pekan ketiga Maret mulai menurun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat frekuensi kejadian bencana mingguan pekan ketiga Maret mulai menurun. Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, penurunan nampak jika dibandingkan kejadian bencana pada puncak musim hujan pada Januari-Februari.

"Sebenarnya dari awal Maret lalu, frekuensi kejadian bencana mingguan kita sudah agak turun. Jadi kalau misalkan di puncak musim hujan di Januari-Februari itu frekuensi kejadian bencana kita itu ada di 60-70 kejadian per minggu. Dan sekarang kita udah di 47 kejadian," ujar Muhari dikutip dari keteranganya dalam disaster briefing BNPB, Senin (27/3/2023).

Baca Juga

Muhari menyebut bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi pada minggu ini. Namun demikian, bencna hidrometeorologi basah yang terjadi saat ini berbeda dengan puncak musim hujan di Januari, Februari lalu.

Dia menjelaskan, jika Januari-Februari ditandai dengan musim hujan dengan atau intensitas hujan frekuensi kejadian hujan yang berulang dengan waktu yang cukup lama.

"Sehingga biasanya ketika banjirnya terjadi, hujan di biasanya sore sampai malam hari, banjir pada pagi hari ini sampai pada siang hari, sore dia mau surut sore hujan lagi, sehingga durasi genangannya sangat lama," ujarnya.

Hal ini yang membuat banjir di wilayah Jawa Tengah beberapa waktu lalu berlangsung cukup lama. Sedangkan, curah hujan saat ini, lanjut Muhari, cenderung sangat tinggi tapi waktunya singkat.

Menurutnya, kondisi ini terkadang membuat bahaya ikutan yang lain yaitu tanah longsor. Dia mencontohkan kejadin tanah longsor di Kota Bogor pada pekan lalu dan banjir serta longsor di Kabupaten Bogor yang mengakibatkan empat orang meninggal.

"Ini distribusi spasialnya jadi kalau kita lihat, Jawa itu masih dominan tapi kemudian kita awal minggu lalu udah menyampaikan bahwa Sumatera bagian tengah ke utara agak hati-hati karena masih ada potensi cuaca ekstrem atau hujan tinggi, ini juga Kalimantan dan Sulawesi, Nusa Tenggara Barat juga mendominasi di Dompu cukup banyak KK yang terdampak," katanya.

Sementara, untuk pulau per pulau di Sumatera sudah tidak ada wilayah yang tergenang, meskipun sempat terjadi banjir di empat lokasi. Begitu juga di Jawa juga sudah tidak ada yang tergenang tapi terdapat cuaca ekstrem.

"Jadi kalau misalkan minggu lalu masih ada banjir genangan di Pati Kudus dan lain-lain sekarang udah surut tapi masih ada cuaca ekstrem, angin kencang yang sekali lagi baik dengan maupun tanpa hujan," katanya.

Kemudian di Kalimantan itu masih ada banjir di Hulu sungai Tengah, karena ada faktor-faktor penumpukan atau konvergensi juga meningkatkan curah hujan di wilayah tersebut.

"Dan ini kita lihat faktor cuaca yang mempengaruhi bencana hidrometeorologi basah dalam satu minggu terakhir ini, mulai tanggal 20 Maret kita lihat Sumatera dan Kalimantan sedikit pola awannya cukup tinggi tapi meskipun di sini di Sumatera Selatan cukup tinggi, tapi banjirnya terjadi di Sumatera Utara dan Aceh," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement