Jumat 03 Feb 2023 09:44 WIB

AS Selidiki Aktivitas Balon Pengintai Diduga Milik China di Wilayah Udaranya

Balon pengintai yang dicurigai milik China itu sempat terlihat di Montana.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
Sebuah balon melayang di atas ketinggian Billings, Montana, pada hari Rabu, 1 Februari 2023. AS sedang melacak balon pengintai China yang dicurigai telah terlihat di wilayah udara AS selama beberapa hari, tetapi Pentagon memutuskan untuk tidak menembak jatuh karena risiko bahaya bagi orang-orang di darat, kata para pejabat Kamis, 2 Februari 2023. Pentagon tidak mengonfirmasi bahwa balon di foto itu adalah balon pengintai.
Foto: Larry Mayer/The Billings Gazette via AP
Sebuah balon melayang di atas ketinggian Billings, Montana, pada hari Rabu, 1 Februari 2023. AS sedang melacak balon pengintai China yang dicurigai telah terlihat di wilayah udara AS selama beberapa hari, tetapi Pentagon memutuskan untuk tidak menembak jatuh karena risiko bahaya bagi orang-orang di darat, kata para pejabat Kamis, 2 Februari 2023. Pentagon tidak mengonfirmasi bahwa balon di foto itu adalah balon pengintai.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) sedang melacak balon pengintai yang dicurigai milik China dan telah terlihat di wilayah udara AS selama beberapa hari. Pentagon menolak menembak balon tersebut karena khawatir membahayakan keselamatan warga di darat.

Balon pengintai yang dicurigai milik China itu sempat terlihat di Montana. Wilayah itu merupakan rumah bagi salah satu dari tiga ladang silo rudal nuklir di Pangkalan Angkatan Udara Malmstrom. Seorang pejabat pertahanan AS yang enggan dipublikasikan identitasnya mengungkapkan, balon pengintai itu berusaha terbang di atas ladang rudal Montana.

Baca Juga

Dia tak mengungkap ukuran balon. Namun bentuknya cukup besar dan sempat berhasil difoto oleh The Billings Gazette. Kendati demikian, Pentagon menolak mengonfirmasi apakah balon tersebut merupakan balon pengintai. Karena sudah beberapa kali terlihat di wilayah udara AS, Senator Steve Daines dari Montana menulis surat kepada Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin.

“Fakta bahwa balon ini menduduki wilayah udara Montana menimbulkan kekhawatiran yang signifikan bahwa Pangkalan Angkatan Udara Malmstrom dan rudal balistik antarbenua AS adalah target dari misi pengumpulan intelijen ini, sangat penting untuk menetapkan jalur penerbangan balon ini; setiap aset keamanan nasional AS yang disusupi, dan semua infrastruktur telekomunikasi atau teknologi di AS yang digunakan balon mata-mata ini,” tulis Daines dalam suratnya kepada Austin, Kamis (2/2/2023).

Belum jelas apa yang dilakukan militer AS untuk mencegah balon pengintai itu menghimpun informasi sensitif. Tak diketahui pula apa yang bakal terjadi jika balon ditembak jatuh. Seorang pejabat pertahanan senior AS mengatakan, militer telah menyiapkan jet tempur, termasuk F-22 untuk menembak jatuh balon tersebut. Namun perintah operasi harus datang dari Gedung Putih.

Pejabat pertahanan AS mengaku telah “melibatkan” sejumlah pejabat China lewat berbagai saluran dan mengomunikasikan tentang kekhawatiran mereka atas balon pengintai tersebut. Belum ada tanggapan atau komentar dari Pemerintah China mengenai tudingan AS bahwa balon pengintai itu merupakan miliknya.

Pada Oktober 2022 lalu, Pentagon telah merilis pernyataan tentang strategi keseluruhannya yang dikenal dengan istilah National Defense Strategy. Di dalamnya, mereka menempatkan Rusia dan China sebagai ancaman utama kepentingan nasional AS. “(China) menghadirkan tantangan yang paling konsekuensial dan sistemik, sementara Rusia menimbulkan ancaman akut, baik untuk kepentingan nasional AS yang vital di luar negeri maupun di dalam negeri,” demikian bunyi pernyataan di dalam National Defense Strategy yang dirilis 27 Oktober tahun lalu.

Menurut Pentagon, tantangan paling komprehensif serta serius terhadap keamanan nasional AS adalah upaya paksa dan agresif China untuk membentuk kembali kawasan Indo-Pasifik. Beijing pun dinilai berusaha membangun ulang sistem internasional agar sesuai dengan kepentingan dan preferensi otoriternya.

Dalam National Defense Strategy, AS menyoroti retorika China atas Taiwan sebagai faktor destabilisasi yang berisiko salah perhitungan dan mengancam perdamaian di daerah tersebut. China diketahui telah berulang kali menyatakan akan mengambil alih kendali atas Taiwan. Namun Taipei sudah sering pula menegaskan bahwa mereka menolak tunduk pada Beijing.

Sementara ancaman Rusia disebut telah terlihat dari keputusannya menyerang Ukraina. AS menilai agresi Moskow ke negara tersebut “tak beralasan”. “Departemen (Pertahanan AS) akan mendukung pencegahan yang kuat dari agresi Rusia terhadap kepentingan nasional AS yang vital, termasuk perjanjian Sekutu kami,” katanya dalam National Defense Strategy.

AS menekankan perlunya kolaborasi dengan negara-negara sekutu dan mitra lainnya untuk melawan bahaya yang ditimbulkan oleh China dan Rusia. Menurut Washington kerja sama semacam itu merupakan “dasar bagi kepentingan keamanan nasional AS”.

sumber : Reuters/AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement