Ahad 22 Jan 2023 14:23 WIB

616 RW Kota Yogyakarta Ditargetkan Miliki Bank Sampah Tahun Ini

Bank sampah yang tidak aktif diupayakan untuk diaktifkan kembali.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Pekerja memilah sampah plastik di depo sampah, Giwangan, Yogyakarta, Rabu (18/1/2023). Pemerintah Kota Yogyakarta akan memusatkan pemilahan spah plastik dari 29 pasar rakyat ke depo sampah Giwangan. Langkah ini diambil untuk mendukung program nol sampah anorganik oleh Pemkot Yogyakarta.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Pekerja memilah sampah plastik di depo sampah, Giwangan, Yogyakarta, Rabu (18/1/2023). Pemerintah Kota Yogyakarta akan memusatkan pemilahan spah plastik dari 29 pasar rakyat ke depo sampah Giwangan. Langkah ini diambil untuk mendukung program nol sampah anorganik oleh Pemkot Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penambahan bank sampah di Kota Yogyakarta terus dilakukan guna mendukung gerakan zero sampah anorganik. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta pun menargetkan 616 RW sudah memiliki bank sampah di 2023 ini.

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta, Very Tri Jatmiko mengatakan, sampai akhir Desember 2022 lalu, sudah terbentuk 575 bank sampah. Ratusan bank sampah itu tersebar di 45 kelurahan di 14 kemantren (kecamatan), dengan kondisi yang tidak semuanya aktif beroperasi.

"Kondisinya 78,78 persen aktif dan 21,21 persen kurang aktif," kata Very. Bank sampah yang tidak aktif pun diupayakan untuk diaktifkan kembali.

Sedangkan, wilayah yang belum memiliki bank sampah akan dibentuk bank sampah dalam rangka membiasakan masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah melalui gerakan zero sampah anorganik.

"Sampah masih jadi permasalahan utama di Kota Yogya, oleh karena itu diperlukan upaya dalam pengelolaan sampah dari sumbernya yaitu rumah tangga. Meliputi pemilahan, pengumpulan, dan daur ulang sampah secara mandiri dengan partisipasi aktif masyarakat, dalam bersinergi dengan DLH, fasilitator kelurahan, serta koordinator kemantren," ujarnya.

Sampah organik dan anorganik yang sudah terpilah, katanya, diharapkan dapat dimanfaatkan kembali dan disetorkan ke bank sampah. Hal ini juga dengan tujuan mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Piyungan, dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Sejak diterapkannya gerakan zero sampah anorganik di awal Januari 2023, berhasil mengurangi sampah yang dibawa ke TPA piyungan. Setidaknya, pihaknya mencatat sampah yang dibawa ke TPA Piyungan berkurang 15-17 ton per hari.

"Hal ini terbukti bahwa kerja sama serta peran dari bank sampah, penggerobak, faskel (fasilitator kelurahan), dan koordinator kemantren dapat menekan jumlah timbunan sampah dari sumbernya," jelas Very.

Sekretaris DLH Kota Yogyakarta, Zenni mengatakan, saat ini terdapat 90 fasilitator kelurahan dan 14 koordinator kemantren pengelolaan sampah mandiri di Kota Yogyakarta. Mereka bertugas untuk membentuk bank sampah tingkat RW, bagi RW yang belum memiliki bank sampah, dan juga menghidupkan kembali bank sampah yang sudah tidak aktif.

"Di Kota Yogya terdapat 616 RW, saat ini ada 575 unit bank sampah dengan jumlah rata-rata nasabah 26 (orang). Jadi minimal targetnya ada 41 unit yang terbentuk di 2023," katanya.

Zenni menyebut, fasilitator kelurahan dan koordinator kemantren juga ikut berperan dalam membangun kesadaran masyarakat. Mulai dari kesadaran untuk mengelola sampah dari rumah, melakukan pendampingan, pendataan, pemantauan, dan evaluasi.

"Dengan peran aktif masyarakat bersama pemerintah, harapannya Kota Yogya berhasil mencapai target pengelolaan sampah di 2025, yaitu pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah 70 persen," ujar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement