Kamis 12 Jan 2023 18:11 WIB

Misteri Bus di Belakang Gedung Kongres Brasil

Puluhan bus itu menjadi saksi bisu kerusuhan yang terjadi di ibukota Brasil.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Para pengunjuk rasa, pendukung mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, menyerbu gedung Kongres Nasional di Brasilia, Brasil, Ahad, 8 Januari 2023.
Foto: AP/Eraldo Peres
Para pengunjuk rasa, pendukung mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, menyerbu gedung Kongres Nasional di Brasilia, Brasil, Ahad, 8 Januari 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, Sudah ratusan pengunjuk rasa yang menyerbu Kongres Brasil ditahan. Tapi dalang dari penyerangan ini masih menjadi misteri. Muncul dugaan bus-bus yang disita polisi dapat menjadi kuncinya.

Dua bulan yang lalu Odair naik bus dari Negara Bagian Parana, sekitar 1.460 kilometer di ibu kota Brasil. Misinya di Brasilia hanya satu: menghabiskan beberapa pekan untuk menunjukkan dukungan pada orang yang ia panggil 'Sang Kapten' - mantan presiden Jair Bolsonaro.

Baca Juga

Namun bagi pria 60 tahun itu perjalanan tersebut berakhir buruk. Ia mengaku tidak ikut dalam penyerbuan ke Kongres Brasil pada 8 Januari lalu. Tapi ia turut ditahan bersama 1.500 pendukung Bolsonaro lainnya yang berkemah selama beberapa pekan.

"Ada perempuan tua di sana, menangis, mereka kehilangan kontak dengan semua orang," katanya usai dibebaskan.

Odair mengenakan baju timnas Brasil yang menjadi simbol pendukung Bolsonaro. "Ini urusan yang sangat menyedihkan," katanya.

Orang-orang yang ditahan setidaknya berasal dari 10 negara bagian. Seperti Odair mereka melakukan perjalanan jauh menuju Brasilia.

Undangan pesta

Empat hari sebelum kerusuhan, muncul sebuah video yang mengundang masyarakat untuk 'berpesta' di Brasilia. Undangan itu menjanjikan bus gratis bagi warga dari negara bagian lain, ditambah makan dan kopi.

Kini yang masih menjadi misteri siapa atau kelompok mana yang berada di balik gagasan itu dan mendanainya. Pertanyaan yang menarik perhatian seluruh warga Brasil.

"Bagi semua orang sudah jelas mereka tidak melakukannya sendiri, mereka berasal dari berbagai tempat," kata seorang warga Brasilia Alice Teixeira seperti dikutip dari BBC, Kamis (12/1/2023).

Awal pekan ini, Presiden Brasil saat ini Luiz Inácio Lula da Silva mengatakan, para pelaku kerusuhan 'mungkin korban' manipulasi pemodal yang masih belum diketahui.

Sejauh ini penyelidikan terfokus pada deretan sekitar 40 bus yang pihak berwenang Brasil sita usai kerusuhan. Sebagian besar bus-bus berwarna cerah itu diparkir di lahan polisi di pinggir kota, bus-bus itu dapat terlihat dari jalan tol.

Dalam konferensi pers, Menteri Kehakiman Brasil Flavio Dino mengatakan, seorang 'eksekutif bisnis' menyewa bus-bus itu untuk membawa pendukung Bolsonaro dari penjuru negeri ke Brasilia. Orang itu menawarkan perjalanan gratis di media sosial.

Dino tidak menyebut nama eksekutif tersebut karena penyelidikan sedang berjalan. Ia menggambarkan panitia kerusuhan ini terlibat dalam industri pertanian dan lobi senjata di negara-negara bagian di barat tengah dan selatan Brasil yang konservatif.

Sementara pihak lain termasuk Lula mengindikasi perusahaan-perusahaan tambang dan penebangan mungkin juga terlibat. Wilayah itu dianggap basis massa Bolsonaro.

Para pemodal

Profesor hukum dan pakar hak asasi manusia Brasil, Paulo Abrao mengatakan para pemodal kerusuhan tampaknya kelompok yang mendapatkan 'keuntungan dari lemahnya kontrol pemerintah' di bawah pemerintahan Bolsonaro.

"Pemodal kejadian ini dapat kelompok yang dalam kerjanya merusak lingkungan atau melanggar hak asasi manusia, kelompok-kelompok ini akan mendapat keuntungan dari penyerangan ke institusi-institusi negara," katanya.

Banyak pendukung garis keras Bolsonaro yang terus menyuarakan narasi peristiwa 8 Januari merupakan provokasi dari kelompok kiri. Mereka mengatakan kelompok itu ingin menggagalkan unjuk rasa damai memprotes pemerintahan Lula.

Salah satu warga Sao Paolo, Telma Viera yang menghabiskan beberapa pekan di perkemahan di kota itu bersama pendukung Bolsonaro lainnya. Pada Selasa (10/1/2023) ia berada di Brasilia untuk mengunjungi dua temannya yang ditahan usai kerusuhan.

"Ini bukan sesuatu yang dilakukan oleh para patriot, ada orang-orang kiri di sana, sebelum kami," katanya di luar tempat para perusuh ditahan.

Pendukung Bolsonaro lainnya, Edson Varela mengamini pernyataan Viera. Ia mengatakan 'penyusup' memulai kekerasan dalam kerusuhan "untuk memberi pemerintah alasan lain untuk menyerang Bolsonaro."

Varela dan Veira merujuk Instagram dan media sosial lainnya untuk membuktikan keberadaan pendukung Lula di tengah massa demonstran. Meski tidak ada video yang berhasil membuktikan tapi opini tersebut menyebar di masyarakat Brasil baik di dalam maupun luar negeri.

Seorang profesor hukum Brasil yang berada di Amerika Serikat (AS) Juscelino Colares mengatakan sejumlah temannya di Brasil mengirimnya "video yang merekam pendukung Bolsonaro memberitahu perusuh untuk tidak membakar dan merusak properti publik."

"Seperti saya, mereka percaya ada agen provokator dari kiri mengambil keuntungan dari rasa frustasi yang terjadi pada sejumlah pengunjuk rasa sayap kanan yang naif," katanya.

Meski pihak berwenang Brasil berjanji mengidentifikasi dan menghukum mereka yang bertanggung jawab atas kerusuhan ini. Sejauh ini hanya sedikit detail penyelidikan yang dibagikan.

Operator telekomunikasi Brasil diperintahkan untuk menyimpan data yang mungkin terkait dengan kerusuhan tersebut. Hukum bagi penyelenggara kerusuhan masih belum diketahui.

Sebagian masyarakat Brasil, seperti mantan sekretaris eksekutif Inter-American Commission for Human Rights menyerukan agar Kongres menyelidiki kerusuhan itu dan apa penyebabnya seperti komite Kongresial yang menyelidiki kerusuhan 6 Januari 2021 di AS.

"Negara itu sangat membutuhkan instrumen yang mapan seperti itu, yang melibatkan yudisial dan wewenang pemerintah lainnya, kami harus menciptakan kondisi agar hal itu memungkinkan, itu vital," katanya.

Sementara, warga Brasil cemas menanti jawaban siapa dalang dari kerusuhan itu. "Saya yakin nanti (pada akhirnya) akan teridentifikasi, tapi beberapa tidak akan pernah meninggalkan jejak mereka," kata pengacara dan penulis Brasil, Geomar Andre Bender.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement