Ahad 20 Nov 2022 11:06 WIB

Gerakan Penerjemahan yang Mengubah Dunia

Gerakan penerjemahan menjadi kunci dari kejayaan peradaban Islam.

Foto ilustrasi museum Peradaban Islam Sharjah Pamerkan Naskah Alquran Langka
Foto: Dok Republika
Foto ilustrasi museum Peradaban Islam Sharjah Pamerkan Naskah Alquran Langka

Oleh : Agung Sasongko, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Di masa lalu, gerakan penerjamaahan menjadi kunci dari kejayaan peradaban Islam. Prof Dr HM Amin Abdullah dalam tulisannya "Penerjemaahan Karya Klasik", Alquran mendorong umat Islam generasi awal untuk menimba, mengambil, dan memanfaatkan khazanah peradaban yang mendahuluinya.

"Usaha gigih dilakukan dengan menerjemahkan warisan intelektual Yunani yang berperan besar dalam kesinambungan mata rantai sejarah peradaban dunia," tulisnya.

Penerjemahan ini, menurut dia, merupakan prestasi budaya yang berhasil dicapai peradaban Islam awal. Pada saat itu, suatu kebudayaan asing diserap secara sempurna oleh kebudayaan lain untuk selanjutnya menjadi landasan pengembangan intelektual lebih lanjut.

Dikatakan Prof Amin, catatan menarik dari gerakan penerjemahan itu tak lepas dari pembebasan wilayah yang dilakukan umat Islam awal tidak mencampuri urusan bahasan dan kebudayaan setempat. Tak heran, pada waktu itu, bahasa yang banyak digunakan di wilayah yang dibebaskan kebanyakan adalah penduduk berbahasa Yunani, Suriah, dan Persia.

 

Pada akhirnya, seiring perjalanan waktu wilayah-wilayah yang dibebaskan peradaban Islam beralih ke bahasa Arab. Pemilihan bahasa Arab ini, selain merupakan bahasa Alquran--kitab suci umat Islam--juga diyakini dapat menyerap dan mengakomodasi berbagai bahasa di dunia.

Di masa awal, penerjemahan dilakukan dari bahasa Yunani ke bahasa Suriah. Selanjutnya, oleh para penerjemah diterjemahkan lagi ke bahasa Arab. Cikal bakal gerakan penerjemahan ini sudah dimulai sejak masa Umayyah, tepatnya pada masa Khalifah Marwan. Namun, gerakan ini secara masif berlanjut pada masa Abbasiyah. Ada dua fase gerakan penerjemahan yang dilakukan pada masa Abbasiyah.

Fase pertama, sejumlah karya besar Yunani telah diterjemahkan. Pada fase ini kebanyakan penerjemah adalah kalangan Kristen, Yahudi, dan mereka yang baru memeluk Islam. Fase kedua, pekerjaan penerjemahan mulai dipusatkan di Bait Al-Hikmah (House of Wisdom). Di fase ini, penerjemahan mulai banyak menyentuh ranah filsafat dan sains.

Pada abad ke-4 hijriah atau abad ke-10 masehi menjadi abad paling subur dalam menerjemahkan karya intelektual Yunani ke dalam bahasa Arab. Sebagian besar terjemahan tersebut telah dilakukan dari bahasa Suriah, tetapi banyak juga diterjemahkan langsung dari bahasa Yunani.

Gerakan ini sempat terhenti seiring jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah. Jatuhnya Baghdad sekaligus menandakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam.

Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan.

Buku 'Sejarah Islam' karya Dr. Siti Zubaidah, M.Ag. Beliau adalah Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan Pascasarjana Universitas Islam Sumatera Utara, Medan menggambarkan betapa sadisnya serangan yang dilakukan pasukan Mongol itu. Sebagai pusat peradaban dunia, kota Baghdad saat itu hancur secara luar biasa. Para penyair kala itu melukiskan jangankan bangunan atau gedung, satu kerikil pun tak tersisa.

Digambarkan, sungai Dajlah atau Tigris berubah menjadi hitam disebabkan tinta ribuan manuskrip yang dilempar ke dalamnya. Perpustakaan, rumah sakit, masjid, madrasah, tempat pemandian dan rumah para bangsawan, toko dan rumah makan –semuanya dihancurkan.

"Demikianlah, kota yang selama beberapa abad menjadi pusat terbesar peradaban Islam itu pun musnah dalam sekejap mata," tulisnya.

Bagaimana dengan gerakan penerjemahan di era modern?

Ada banyak faktor yang menyebabkan gerakan penerjemahan ini. Setidaknya ada pandangan yang bisa menggambarkan bagaimana situasi dunia Islam waktu itu.

John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford mengungkapkan, pada abad pertengahan tradisi menulis masih dilakukan di dunia Islam. Pada abad ke-18, teknologi percetakan ini sudah dikenal. Justru, dunia Islam terlambat memanfaatkan itu. Salah satu alasan terlambatnya perkembangan percetakan di dunia Islam karena adanya penolakan. Di masa Utsmaniyah, upaya untuk menerima kehadiran teknologi percetakan gagal dilakukan.

Sementara, Ahmad El Shamsy dalam bukunya, Rediscovering the Islamic Classics: How Editors and Print Culture Transformed an Intellectual Tradition melihat dari sudut pandang lain. Menurutnya,  tradisi pemikiran umat Islam alami perubahan besar dengan hadirnya teknologi percetakan pada abad ke-20. Teknologi ini mendorong para ulama dan cendekiawan menemukan kembali kitab-kitab dari zaman awal yang hilang dari perpustakaan pada abad-abad akhir peradaban Islam.

"Terlambatnya dunia Islam menggunakan percetakan karena pada dasarnya sistematika pendidikan waktu itu tidak dibutuhkan karena masih mengandalkan budaya menulis," paparnya.

Karenanya, ada banyak faktor membuat tradisi intelektual dunia Islam dinilai banyak kalangan alami kemandekan. Ini tidak serta merta tidak adanya semangat dari umat Islam sendiri untuk melanjutkan tradisi yang sudah dibangun berabad-abad silam.

Faktanya adalah upaya melakukan pembaruan telah dilakukan. Kehadiran para tokoh pembaharu merupakan bukti tradisi yang diawali dari gerakan penerjemahan ini masih hidup sampai sekarang. Hanya saja, posisinya saat ini peradaban Islam tak lagi mendominasi dunia.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement