Kamis 17 Nov 2022 18:36 WIB

Muktamar Muhammadiyah, Kokohkan Poros Islam Berkemajuan

Muhammadiyah adalah ormas yang menjunjung tinggi ukhuwah.

Rep: Wallohu Ta'ala 'alam/ Red: Karta Raharja Ucu
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kedua kanan) menyampaikan paparan  persiapan pembukaan Muktamar ke-48 di PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu (16/11/2022). Pembukaan Muktamar ke-48 Muhammadiyah rencananya pada Sabtu (19/11/2022) di Stadion Manahan, Surakarta dan akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Sekitar 17 ribu undangan dan penggembira akan meramaikan pembukaan nanti.
Foto:

Oleh : Fahmi Salim Lc. MA. Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah periode 2015-2022

Fenomena Dakwah Urban

Masyarakat urban atau perkotaan sudah melek dengan teknologi informasi. Kehidupan mereka tak lepas dari gadget. Bahkan, untuk mendapat pengetahuan agama pun, mereka memanfaatkan kanal-kanal yang disediakan dunia maya. Sumber-sumber literasi keislaman diperoleh melalui perangkat-perangkat teknologi informasi seperti media sosial (YouTube, Facebook, Instagram, TikTok, Twitter), situs-situs Islam atau sumber-sumber digital lainnya.

Mereka pun lebih suka berteman dengan menggunakan jejaring sosial daripada melalui tatap muka. Sedikit yang mau berguru secara langsung dengan para kiai atau ustadz dengan membaca langsung kitab-kitab turots. Tak salah jika disebut ruang digital menjadi medan pertarungan simbol, gagasan atau pemikiran keagamaan. Yang menjadi penguasanya ditandai antara lain dengan seberapa banyak follower dan viewer-nya.

Ustadz yang sering tampil di ruang digital akan merebut pasar dakwah, terutama di kalangan milenial. Tampilan dengan penyampaian yang menarik, kreatif, unik dan inspiratif lebih disukai daripada mempertimbangkan latar belakang keilmuan dan lingkungan sosial-keagamaannya yang otoritatif, seperti dari Muhammadiyah, NU atau Persis.

Apakah ini indikasi bergesernya otoritas lembaga keagamaan di masyarakat? Tentu saja, terlalu sederhana untuk menyimpulkan otoritas ormas-ormas Islam sudah melemah dan digantikan oleh ustadz-ustadz yang menguasai ruang digital. Meski demikian, fenomena ini tidak boleh disepelekan dan harus direspon dengan bijak.

Masyarakat perkotaan, terutama generasi milenial meskipun lahir dan dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah tak berarti mereka akan loyal dan terikat secara ideologis dengan Muhammadiyah. Mereka hanya mengenyam pendidikan di lembaga Muhammadiyah, tapi tetap memiliki kebebasan ekspresi dalam memilih konten dakwah yang disukainya atau ustadz favoritnya. Sebagian besar terpengaruh dengan sosok dan kepiawaian sang ustadz serta komunitas influencer "hijrah" yang menggawanginya, misalnya dari kalangan artis atau tokoh publik lainya.

Kita harus bersikap jujur segmen dakwah masyarakat urban ini berhasil direbut oleh sebagian kelompok salafi karena mereka mampu memasuki ruang-ruang digital yang terbuka luas ini dengan berbagai tawaran menarik. Sementara banyak mubaligh Muhammadiyah hanya berselancar di masjid-masjid dan komunitasnya.

Padahal, Muhammadiyah sebagai ormas terbesar harus mampu men-support kadernya untuk merangkul semua kalangan, termasuk kaum milenial. Hanya sedikit yang siap melakukan penetrasi dakwah secara rutin dan konsisten dengan menyajikan ceramah yang segar, aktual, ringan dan menginspirasi. Karena itu, tak ada pilihan lain, para mubaligh Muhammadiyah harus berani tampil dengan memanfaatkan teknologi digital.

Setidaknya saya sudah mencobanya dengan kru dan dana yang terbatas. Sengaja membawa brand Al Fahmu Institute, lembaga dakwah yang saya dirikan agar mampu merangkul segmen masyarakat yang lebih luas dan heterogen.

Saya berusaha menyajikan berbagai tema aktual dan penting untuk merespon berbagai persoalan keumatan, kemudian berkolaborasi dengan berbagai narasumber lintas ormas. Karena, masyarakat membutuhkan panduan yang cepat dan tepat. Harapannya, mereka akan mengenal saya sebagai salah seorang pegiat dakwah dari Muhammadiyah yang terbuka dan ramah bagi semua kalangan Islam dan elemen bangsa yang majemuk.

Realitas ini sudah disadari oleh Muhammadiyah  bahwa kemajuan teknologi digital di satu sisi membawa banyak manfaat, tapi di sisi lain menciptakan disrupsi dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya, berdampak pada disrupsi sosial berupa krisis keadaban yang dengan mudah memicu maraknya hoaks, kebencian, permusuhan, saling mencela, menghina, dan aksi-aksi tuna moral lainnya.

Kohesifitas sosial memudar dan manusia menjadi hidup serba instan. Kesantunan, kearifan, dan akhlak mulia mengalami peluruhan. Karena itu, Muhammadiyah pernah menerbitkan “Fikih Informasi” yang harus dilanjutkan dengan sebuah gerakan budaya literasi digital yang positif dengan teladan yang luhur. Harus dimulai oleh para tokoh Muhammadiyah dari pimpinan pusat hingga pimpinan ranting. Semuanya bergerak untuk membangun kesalehan digital yang bisa mewarnai kehidupan masyarakat luas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement