Kamis 17 Nov 2022 06:28 WIB

Ketua BEM Universitas Udayana Tanggapi Tuduhan Disebut Provokator G20

Darryl Dwi diserang akun bodong di Instagram dan Twitter lantaran kritik G20 di Bali.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa (BEM PM) Universitas Udayana, Darryl Dwi Putra.
Foto: Istimewa
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa (BEM PM) Universitas Udayana, Darryl Dwi Putra.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa (BEM PM) Universitas Udayana, Darryl Dwi Putra menanggapi tuduhan yang menyebut dirinya sebagai provokator lantaran menolak diadakannnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada 15-16 November 2022.

"Itu saya juga cukup kaget, karena di siang hari tadi tiba-tiba ramai (di media sosial) dan memang saya duga akun-akun bodong, cuma memang awalnya muncul ketika saya membuat kisah Instagram untuk mempertanyakan terkait ruang demokrasi yang dipersempit selama G20," kata Darryl di Kota Denpasar, Bali, Rabu (16/11/2022) malam WITA.

Dia menegaskan tidak melakukan provokasi, lantaran hanya menyampaikan pendapat. Selama ini Darryl mengaku, tidak pernah menolak diadakannya KTT G20. Namun, tanpa sepengetahuan Darryl, namanya ramai disebut menggunakan tagar di Twitter oleh akun-akun berangka hingga menjadi topik teratas.

Baca juga : PM Kanada: Indonesia Berhasil Memimpin G20 Pada Masa Sulit

 

"Iya memang saya tidak pernah menyebutkan saya mendukung atau menolak, tapi saya memang mengkritisi bagaimana ketika G20 ini berjalan, apa-apa saja yang menjadi permasalahan," ujar mahasiswa asal Bali tersebut.

Adapun kritikan yang dimaksudnya adalah terkait ruang demokrasi yang dipersempit pemerintah adalah salah satunya soal pembubaran kelompok mahasiswa yang hendak melakukan diskusi di Gedung Media Center Universitas Udayana, Kota Denpasar pada Senin (14/11/2022). Merespon hal itu, Darryl menaikkan sebuah gambar di Instagram.

Gambar itu hanya me-repost dari akun milik Bangsa Mahasiswa. Dalam unggahan di Instagram, ia menambahkan pertanyaan soal tanggapan penonton mengenai ruang demokrasi yang dipersempit, namun tak lama unggahan tersebut lenyap dengan sendirinya.

Baca juga: Rishi Sunak: G20 Promosikan Stabilitas Ekonomi

Darryl mengatakan, organisasi lingkungan Greenpeace terlebih dahulu mengunggah hal serupa sebagai bentuk pandangannya terkait krisis iklim. "Tapi memang makna dari kisah Instagram yang saya sebutkan adalah untuk menyampaikan pertanyaan saya, dan saya ingin memantik forum diskusi makanya saya juga meletakkan kolom pertanyaan di sana," ujarnya meluruskan.

Dia sendiri memandang perhelatan G20 yang berhasil dilewati puncaknya dua hari di Bali itu sebagai pertemuan yang menghadirkan sisi pro dan kontra. Meski egitu, Darryl menyatakan harapannya agar segala kesepakatan dan janji dalam forum tersebut berpihak kepada masyarakat.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement