Sabtu 05 Nov 2022 17:13 WIB

Hadapi Varian XBB, Epidemiolog: PPKM Level 1 Cukup, Asal Konsisten

Capaian vaksinasi booster dinilai masih sangat rendah.

Rep: RR Laeny Sulistyawati/ Red: Agus raharjo
Tenaga kesehatan melakukan tes usap antigen kepada Jamaah haji kloter satu Debarkasi Solo saat tiba di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (16/7/2022) dini hari. (Ilusttasi)
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Tenaga kesehatan melakukan tes usap antigen kepada Jamaah haji kloter satu Debarkasi Solo saat tiba di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (16/7/2022) dini hari. (Ilusttasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyarankan, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 diterapkan untuk menghadapi subvarian omicron XBB. Syaratnya, konsistensi dalam penerapannya ditambah dengan vaksinasi Covid-19 dosis penguat (booster) yang dikebut.

"PPKM di Level 1 sudah cukup memadai saat ini, tetapi yang harus ditekankan dan ditingkatkan adalah konsistensi implementasi aturan yang ada," ujar Dicky saat dihubungi Republika.co.id, Sabtu (5/11/2022).

Baca Juga

Ia merekomendasikan penegakan hukum saat penerapan PPKM yang harus diperkuat. Sebab, hal itu masih menjadi pekerjaan rumah. Dicky juga menilai kemampuan vaksinasi Covid-19 dan protokol kesehatan 5M masih efektif. Namun, hal itu harus didukung dengan penguatan atau penegakan hukumnya.

"Yang juga menjadi pekerjaan rumah adalah vaksinasi Covid-19 dosis penguat yang belum terlaksana dengan memadai, masih mentok 27 persenan," katanya.

Dicky mengingatkan, cakupan vaksin booster ini berbahaya terutama bagi kelompok berisiko karena adanya subvarian XBB. Ia meminta, terkait perkembangan XBB, pemerintah memitigasi persiapan layanan kesehatan hingga meningkatkan kemampuan deteksi dini yang harus dilakukan saat ini.

Pemerintah juga harus memperkuat dan memasifkan pemeriksaan karena untuk menemukan infeksi virus. Selain itu, pelacakan juga harus dilakukan di level masyarakat. Meski tidak semua ditelusuri, ia menyebutkan, beberapa kondisi yang mengarah pada populasi berisiko misalnya di rumah sakit, infeksi petugas kesehatan, atau sekolah membutuhkan penelusuran. "Pemeriksaan dan pelacakan di tempat-tempat ini penting," ujarnya.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement