Kamis 13 Oct 2022 20:29 WIB

Kapolri Tegaskan Gas Air Mata Kedaluwarsa di Tragedi Kanjuruhan Didalami Penyidik

Kapolri janji hasil pemeriksaan gas air mata kedaluwarsa akan disampaikan ke publik.

Suporter Arema FC (Aremania), Kevia Naswa Ainur Rohma menunjukkan matanya yang masih memerah akibat menjadi salah satu korban luka di Tragedi Kanjuruhan di Kedungkandang, Malang, Jawa Timur, Rabu (12/10/2022). Mabes Polri sebelumnya mengakui ada sebagian gas air mata yang digunakan aparat di Kanjuruhan sudah kedaluwarsa. (ilustrasi)
Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Suporter Arema FC (Aremania), Kevia Naswa Ainur Rohma menunjukkan matanya yang masih memerah akibat menjadi salah satu korban luka di Tragedi Kanjuruhan di Kedungkandang, Malang, Jawa Timur, Rabu (12/10/2022). Mabes Polri sebelumnya mengakui ada sebagian gas air mata yang digunakan aparat di Kanjuruhan sudah kedaluwarsa. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BADUNG -- Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan, bahwa penyidik masih terus mendalami gas air mata kedaluwarsa yang diduga digunakan polisi saat terjadi insiden di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (1/10/2022). Ia menjelaskan, pemeriksaan mendalam itu melibatkan sejumlah ahli kesehatan, pakar toksologi, dan ahli kimia.

"Tim penyidik terus bekerja, tentunya beberapa isu terkait dengan gas air mata sedang kami dalami. Ada isu bahwa (gas air mata) kedaluwarsa. Semuanya kami dalami sehingga ini menjadi bagian yang kami jelaskan dengan melibatkan ahli kimia, ahli toksologi, ahli yang membidangi kedokteran, pernapasan, dan mata menjadi satu rangkaian jawaban," kata Kapolri saat ditemui di sela-sela kegiatan di Kuta, Badung, Bali, Kamis (13/10/2022).

Baca Juga

Ia meyakinkan publik bahwa kepolisian akan transparan mengingat hasil pemeriksaan itu bakal disampaikan kepada publik. "Ini memang menjadi hal-hal yang harus kami temukan dan sampaikan kepada publik dalam rangka pemenuhan pasal sangkaan," katanya.

Sejauh ini penggunaan gas air mata kedaluwarsa di Stadion Kanjuruhan masih menjadi sorotan berbagai pihak. Publik sempat bereaksi setelah Kepala Divisi Humas Polri Irjen Polisi Dedi Prasetyo pada sesi jumpa pers di Jakarta, Senin (10/10/2022), menilai gas air mata tidak menyebabkan efek yang fatal seperti kematian.

"Kalau misalnya terjadi iritasi pada pernapasan, sampai saat ini belum ada jurnal ilmiah menyebutkan bahwa ada fatalitas gas air mata yang mengakibatkan orang meninggal dunia," kata Dedi.

Walaupun demikian, Ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Mahfud MD pada jumpa pers di Jakarta, Selasa (12/10/2022), mengatakan pihaknya memeriksa kandungan gas air mata kedaluwarsa ke laboratorium demi mengetahui efeknya terhadap tubuh manusia dan kesehatan. Beberapa lembaga lain, seperti Komnas HAM dan LPSK pada pekan ini menyampaikan, bahwa penggunaan gas air mata oleh polisi menjadi salah satu pemicu banyaknya warga yang meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan.

Kepolisian pada Selasa (12/10/2022) memperbarui jumlah korban meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, sebanyak 132 orang, bertambah dari data sebelumnya 131 orang. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Polisi Dedi Prasetyo mengatakan data terbaru itu telah divalidasi per 11 Oktober 2022, pukul 17.00 WIB.

 

photo
Enam Tersangka Tragedi Kanjuruhan - (infografis republika)

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement