Rabu 28 Sep 2022 19:33 WIB

Empat Desa di Magelang Jadi Percontohan Penanganan Anak tak Sekolah

Penanganan anak tak sekolah akan dikembangkan di seluruh desa di Kabupaten Magelang.

Red: Nur Aini
Sejumlah pelajar tengah melaksanakan Ujian Sekolah. Ilustrasi Sebanyak empat desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, jadi percontohan program penanganan anak tidak sekolah (ATS), yakni Desa Sambeng, Kembanglimus Kecamatan Borobudur, Desa Kalisalak (Salaman), dan Desa Banyusidi (Pakis).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah pelajar tengah melaksanakan Ujian Sekolah. Ilustrasi Sebanyak empat desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, jadi percontohan program penanganan anak tidak sekolah (ATS), yakni Desa Sambeng, Kembanglimus Kecamatan Borobudur, Desa Kalisalak (Salaman), dan Desa Banyusidi (Pakis).

REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG -- Sebanyak empat desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, jadi percontohan program penanganan anak tidak sekolah (ATS), yakni Desa Sambeng, Kembanglimus Kecamatan Borobudur, Desa Kalisalak (Salaman), dan Desa Banyusidi (Pakis).

Penanggung Jawab Penanganan ATS Kabupaten Magelang, Basuki Rochmad di Magelang, Rabu (28/9/2022), menjelaskan program penanganan ATS ini diluncurkan oleh UNICEF. Program tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan agar ATS bisa bersekolah kembali dan mendapatkan pendidikan dengan baik.

Baca Juga

Ia menyampaikan empat desa itu sebagai percontohan yang nantinya akan dikembangkan di seluruh desa di Kabupaten Magelang.

"Peran Pemkab Magelang sebagai user dalam program UNICEF untuk penanganan ATS, yaitu sharing dana, baik dana dari UNICEF, Pemkab, dan pemerintah desa," katanya.

 

Ia menyebutkan beberapa hari lalu Bappeda dan Litbang Pemkab Magelang telah melakukan pendataan di empat desa tersebut dan menemukan enam ATS di Desa Sambeng, tujuh ATS di Desa Kembanglimus, enam ATS di Desa Kalisalak, dan tujuh ATS di Desa Banyusidi.

"Ini masih sampel, pendataan ini masih belum selesai. Tentunya kalau kami teruskan masih ada beberapa ATS lainnya. Harapannya nanti sampai selesai," katanya.

Menurut dia ada beberapa faktor ATS, antara lain lulus dan tidak melanjutkan, ada yang putus sekolah, dan tidak mampu secara ekonomi.

"Ada yang SD tidak lulus, ada yang lulus SD tidak melanjutkan ke SMP, ada yang putus sekolah di SMP," katanya.

Ia menuturkan Bappeda dan Litbang Kabupaten Magelang bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan hari ini menyerahkan salah satu ATS untuk bisa bersekolah kembali di SMK Muhammadiyah 2 Borobudur.

Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, Nida Ul Hasanah menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Daerah yang telah memiliki peran yang sangat besar untuk membantu ATS bisa menuntut ilmu lagi.

"Harapan kami, Putra (salah satu ATS) bisa bersekolah sampai selesai dan memiliki keahlian sehingga bisa sukses di kemudian hari," kata Nida.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement