Kamis 08 Sep 2022 22:08 WIB

Studi Temukan Gula Bisa Ubah Mikrobioma Usus Pemicu Diabetes

Perubahan mikrobioma usus juga bisa memicu penambahan berat badan.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nora Azizah
Sebuah studi menemukan bahwa gula makanan dapat mengubah mikrobioma usus, yang memicu peristiwa mengarah pada penyakit metabolisme, pra-diabetes, dan penambahan berat badan.
Foto: Wikimedia
Sebuah studi menemukan bahwa gula makanan dapat mengubah mikrobioma usus, yang memicu peristiwa mengarah pada penyakit metabolisme, pra-diabetes, dan penambahan berat badan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi menemukan bahwa gula makanan dapat mengubah mikrobioma usus, yang memicu peristiwa mengarah pada penyakit metabolisme, pra-diabetes, dan penambahan berat badan. Temuan yang dipublikasikan di laman Cell itu menunjukkan bahwa pola makan itu penting, tetapi mikrobioma yang optimal sama pentingnya untuk pencegahan sindrom metabolik, diabetes, dan obesitas.

Pola makan tinggi lemak dan gula dapat menyebabkan obesitas, sindrom metabolik, dan diabetes. Profesor mikrobiologi dan imunologi di Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons, Ivaylo Ivanov dan rekan-rekannya menyelidiki efek awal dari pola makan gaya Barat yang dominan dengan gula pada mikrobioma tikus.

Baca Juga

Setelah empat minggu, hewan menunjukkan karakteristik sindrom metabolik, seperti penambahan berat badan, resistensi insulin, dan intoleransi glukosa. Mikrobioma mereka telah berubah secara dramatis, dengan jumlah bakteri berfilamen yang tersegmentasi turun tajam dan bakteri lain bertambah banyak.

Pengurangan bakteri berfilamen sangat penting untuk kesehatan hewan melalui efeknya pada sel kekebalan Th17. Penurunan bakteri berfilamen mengurangi jumlah sel Th17 di usus, dan eksperimen lebih lanjut mengungkapkan sel Th17-lah yang diperlukan untuk mencegah penyakit metabolik, diabetes, dan penambahan berat badan.

Komponen apa dari pola makan tinggi lemak dan tinggi gula yang menyebabkan perubahan ini? Tim Ivanov menemukan gula sebagai penyebabnya. “Gula menghilangkan bakteri berfilamen, dan akibatnya sel pelindung Th17 menghilang,” kata Ivanov dilansir The Brighter Side, Kamis (8/9/2022).

Ketika peneliti memberi makan tikus diet bebas gula dan tinggi lemak, mereka mempertahankan sel Th17 usus dan sepenuhnya terlindungi dari obesitas dan pra-diabetes, meskipun mengonsumsi jumlah kalori yang sama. Namun, penghapusan gula tidak memiliki efek yang menguntungkan, dan hewan menjadi gemuk dan mengembangkan diabetes.

"Ini menunjukkan bahwa beberapa intervensi diet populer, seperti meminimalkan gula, hanya dapat bekerja pada orang yang memiliki populasi bakteri tertentu dalam mikrobiota mereka," ujar Ivanov.

Dalam kasus itu, probiotik tertentu mungkin bisa membantu. Pada tikus Ivanov, suplemen bakteri berfilamen menyebabkan pemulihan sel Th17 dan perlindungan terhadap sindrom metabolik, meskipun hewan ini mengonsumsi makanan tinggi lemak.

Meskipun manusia tidak memiliki bakteri berfilamen yang sama seperti tikus, Ivanov berpikir bakteri lain pada manusia mungkin memiliki efek perlindungan yang sama. Pemberian sel Th17 pada tikus juga memberikan perlindungan dan dapat menjadi terapi bagi manusia.

“Mikrobiota penting, tetapi perlindungan sebenarnya berasal dari sel Th17 yang diinduksi oleh bakteri,” kata Ivanov.

Ivanov menjelaskan studinya menekankan bahwa interaksi kompleks antara diet, mikrobiota, dan sistem kekebalan memainkan peran kunci dalam pengembangan obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe-2, dan kondisi lainnya. “Ini menunjukkan bahwa untuk kesehatan yang optimal, penting tidak hanya mengubah pola makan tetapi meningkatkan mikrobioma atau sistem kekebalan usus, misalnya, meningkatkan bakteri penginduksi sel Th17,” uyar Ivanov.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement