Sabtu 06 Aug 2022 20:12 WIB

Kritik Ibnu Al-Jauzi Terhadap Praktik Zuhud Berlebihan Umat Islam

Ibnu Al-Jauzi mengkritik pemahaman dan praktik zuhud yang berlebihan

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi dzikir yang berlebihan. Ibnu Al-Jauzi mengkritik pemahaman dan praktik zuhud yang berlebihan
Foto: ANTARA/Rahmad
Ilustrasi dzikir yang berlebihan. Ibnu Al-Jauzi mengkritik pemahaman dan praktik zuhud yang berlebihan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Ibnu al-Jauzi merupakan salah satu ulama Abad Pertengahan yang dikenal mempunyai kritik tajam terhadap fenomena beragama umat Islam saa itu.  

Salah satu poin kritiknya adalah pemaknaan atas zuhud. Hal in sebagaimana tertuang dalam kitabnya, Shaid Al-Khatir. 

Baca Juga

Pada masanya, tidak sedikit orang yang salah sangka terhadap karakteristik tersebut. Padahal, Ibnu al-Jauzi melanjutkan, seorang zahid yang sejati tidak hanya berkutat pa da penampilan yang kumal. Esensi kezuhudan terletak pada kejernihan hati. 

Adapun yang lebih membuatnya prihatin, agama telah dijual dengan harga yang amat murah. Dalam arti, sekelompok orang meng amalkan jalan kehidupan yang tidak pernah diajarkan Alquran dan sunnah Nabi Muhammad SAW. 

“Saya banyak menyaksikan orang alim yang berbuat maksiat kepada Allah SWT dengan anggapan bahwa ilmu yang mereka miliki akan membantu menyelamatkan mereka. Ilmu yang mereka miliki justru sangat memusuhi kelakuan buruk mereka itu,” tulis Ibnu al-Jauzi. 

Dalam tulisannya itu, sang ulama mengajak pem baca untuk mendekati sifat bijaksana. Karakteristik demikian dapat dilihat dari perspektif terhadap dunia. Kehidupan kini-di sini memang sementara, tetapi tidak berarti dapat diabaikan begitu saja. 

Dalam Alquran pun, Allah SWT menyuruh manusia yang beriman untuk meng utamakan akhirat, tetapi jangan melupakan bagian di dunia. Orang-orang arif akan menjadikan kebahagiaannya di dunia sebagai jalan pembuka kenikmatan di akhirat, katanya. 

Ia juga mengingatkan khalayak untuk selalu berpegang teguh pada Alquran dan sunnah. Ia mencatat, tidak sedikit orang pada masanya yang mengaku-ngaku alim. Padahal, mereka telah berpaling dari ilmu-ilmu syariat. Bila keadaannya demikian, bagaimana pula dengan orang awam?

 

Siapa Ibnu Al-Jauzi

Ibnu Al-Jauzi, lahir pada abad ke-12 Masehi, di ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad. Pemilik nama lengkap Ja maluddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ubaidillah bin Abdulllah itu merupakan ahli fikih Mazhab Hanbali. Di samping itu, keturunan sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar ash- Shiddiq, tersebut juga menekuni bidang ilmu sejarah. 

Pada dekade 1170-1180 M, ia berposisi sebagai kadi utama di Abbasiyah. Selama menduduki jaba tannya itu, Ibnu al-Jauzi cukup kritis dan tegas terhadap aliran sufi dan kaum Syiah. 

Belakangan, sikapnya menuai respons dari berbagai pihak. Akhirnya, dai tersebut sempat diasingkan ke Wasith oleh penguasa kala itu, Khalifah Nashirudinnillah. 

Saat berusia 87 tahun, tokoh yang berjulukan Syaikhul Islam itu wafat di Baghdad. Seperti umumnya ulama-ulama klasik, Ibnu al-Jauzi juga menghasilkan banyak karya di sepanjang hayatnya. 

Konon, jumlahnya mencapai seribu judul. Dalam bidang ilmu Alquran, ia menulis kitab tafsir, yaitu Zad al-Masir. 

Dalam keilmuan sunnah, salah satu buah penanya adalah Al-Maudhu'at al-Kubra, yang berisi daftar dan kritik atas hadits-hadits palsu. Dai itu juga mengomentari Ihya Ulum ad-Din Imam al-Ghazali dalam bukunya, Minhajul Qashidin. 

Dan, ada satu karyanya yang mungkin belum begitu sering disorot. Namun, legasinya itu justru meng inspirasi para penulis era modern, termasuk Dr 'Aidh Abdullah al-Qarni, sang pengarang buku La Tahzan.    

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement