Kamis 16 Jun 2022 08:39 WIB

Harga Pangan Kian Mencekik, Kita Bisa Apa?

Badan pangan PBB ingatkan harga pangan internasional bisa naik hingga 20 persen.

Bahan pangan (foto ilustrasi)
Foto: ANTARA/Adeng Bustomi/foc.
Bahan pangan (foto ilustrasi)

Oleh : Christianingsih, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Dunia kuliner sedang tidak baik-baik saja. Ini bukan soal rendang babi yang jadi perbincangan hangat beberapa hari terakhir. Ada isu lain yang lebih mendasar dan bikin resah para punggawa dapur: harga bahan pangan naik tajam.

Seolah masih belum cukup dihadapkan pada harga minyak goreng yang melejit, kini beban untuk menyajikan sekadar sepiring sarapan makin bertambah dengan meroketnya harga bawang merah, cabai, telur, hingga daging-dagingan. Bak bersekongkol, harga aneka bahan pangan utama itu naik hampir bersamaan dengan persentase 50-100 persen. Harga daging sapi juga tak kunjung turun sejak Idulfitri kendati ada wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).

Mengacu pada Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan, pada Sabtu (10/6/2022) untuk menebus satu kilogram cabai rawit di Jakarta kita harus merogoh kocek Rp 102. 300. Sungguh harga yang membuat para pedagang ayam geprek memutar otak.

Perubahan iklim jadi biang keladi yang banyak dituding mengacaukan pasokan pangan hari ini. Perubahan iklim, sebagaimana yang kita tahu, membuat cuaca makin tak menentu. Petani kesulitan membudidayakan tanamannya akibat cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem rentan membuat tanaman stres dan terserang penyakit.

 

Akibatnya bisa ditebak, produktivitas tanaman menurun karena gagal panen. Berkurangnya produksi akan mengakibatkan harga pangan menjadi lebih mahal.

Di belahan dunia yang lain, konflik Rusia-Ukraina juga turut andil dalam gonjang ganjing rantai pasokan pangan. Rusia adalah produsen utama pupuk yang mengandung kalium, fosfat, dan nitrogen. Rusia menghasilkan lebih dari 50 juta ton per tahun atau 13 persen dari total global.

Akhir tahun lalu, Rusia sudah membatasi ekspor pupuk untuk 1 Desember hingga 31 Mei guna membantu mengekang kenaikan harga pangan lebih lanjut di tengah harga gas alam yang lebih tinggi. Perang telah menyebabkan melonjaknya harga pupuk sehingga tidak terjangkau lagi oleh petani.

Di samping itu, Rusia dan Ukraina merupakan produsen gandum yang menopang sepertiga dari pasokan gandum global. Invasi telah membuat penanaman gandum terganggu dan lalu lintas ekspor impor dibatasi.

Badan pangan PBB memperingatkan harga pangan dan pakan internasional bisa naik hingga 20% sebagai akibat dari perang Rusia-Ukraina. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu lonjakan kekurangan gizi global.

Global Crisis Response Group (GCRG) mengungkapkan sebanyak 1,2 miliar penduduk dunia sangat rentan terhadap tiga krisis global yang disebabkan oleh konflik Rusia dan Ukraina. Tiga krisis tersebut yakni krisis pangan, energi, dan keuangan.

Kita tak bisa terus menggantungkan harapan pada impor karena faktanya saat ini menurut Presiden Jokowi sudah 22 negara menghentikan ekspor komoditas pangan. Puluhan negara tersebut menghentikan ekspor komoditas pangannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satu negara yakni India menangguhkan ekspor gandum untuk melindungi kebutuhan dalam negeri dan menekan inflasi pangan.

Gandum memang bukan makanan pokok orang Indonesia. Namun di negeri ini industri pengolahan gandum tumbuh subur. Krisis gandum bisa membuat para pecinta mi dan roti ikut sengsara.

Sektor pertanian Indonesia harus disiapkan dengan baik demi menjaga ketahanan pangan di masa depan. Menciptakan sistem pangan yang tangguh harus menjadi prioritas utama dalam merespons dampak perubahan iklim dan dinamika geopolitik dunia. 

 

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement