Jumat 10 Jun 2022 08:33 WIB

100 Hari Perang Rusia-Ukraina, Apa Hasilnya?

Perang menyebabkan 1,4 miliar orang kekurangan pasokan bahan pangan.

Seorang tentara Ukraina berjalan dengan anak-anak melewati mobil yang hancur akibat perang melawan Rusia, di Bucha, di pinggiran Kyiv, Ukraina, Senin, 4 April 2022.
Foto: AP/Rodrigo Abd
Seorang tentara Ukraina berjalan dengan anak-anak melewati mobil yang hancur akibat perang melawan Rusia, di Bucha, di pinggiran Kyiv, Ukraina, Senin, 4 April 2022.

Oleh : Friska Yolandha, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Tanggal 4 Juni 2022 menandai 100 harinya invasi Rusia ke Ukraina. Invasi yang disebut 'operasi militer khusus' tersebut dimulai 24 Februari dan masih berlangsung hingga saat ini.

Perang tersebut telah merenggut ribuan nyawa, menyebabkan fasilitas umum hancur, membuat jutaan orang mengungsi, dan menyebabkan krisis global. Tak hanya persoalan keuangan, perang juga menyebabkan terganggunya rantai pasokan makanan yang berujung pada krisis pangan.

Sekjen PBB Antonio Guterres telah menyerukan agar perang dihentikan. Menurutnya, penyelesaian konflik antarnegara harus dilakukan melalui negosiasi dan dialog.

“Saat kami menandai hari yang tragis ini, saya memperbarui seruan saya untuk segera menghentikan kekerasan, untuk akses kemanusiaan yang tidak terbatas kepada semua yang membutuhkan, untuk evakuasi warga sipil yang aman yang terperangkap di daerah pertempuran dan untuk perlindungan mendesak warga sipil dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. sesuai dengan norma internasional,” katanya, dilansir keterangan resmi.

 

Sejumlah sanksi yang diberikan negara Barat untuk Rusia tak hanya berdampak pada Rusia tetapi juga dunia. Sanksi dan boikot barang dari Rusia menyebabkan jutaan manusia kekurangan makanan.

Selain masalah pangan, WHO juga menyoroti masalah keamanan masyarakat sipil. Jarno Habicht, Perwakilan WHO di Ukraina mengatakan perang telah menempatkan sistem kesehatan di bawah tekanan yang besar. "Kami telah memverifikasi 269 serangan terhadap kesehatan," katanya.

Akibatnya, orang-orang terpaksa dirawat di ruangan seadanya. Dokter bahkan harus melakukan operasi caesar di ruang bawah tanah, di penampungan, bahkan di stasiun metro.

Setidaknya 14 juta orang harus mengungsi dari rumah mereka. Akibatnya, para pekerja kehilangan pekerjaan dan terpaksa mengantre untuk mendapatkan makanan.

Para pengungsi terpaksa berpindah tempat secara berkala demi keamanan. Hal ini, kata PBB, sangat riskan dan berdampak pada warga yang rentan.

Meskipun demikian, PBB mencatat sudah ada warga Ukraina yang kembali dari pengungsian. Sebagian besar terjadi di wilayah utara Ukraina, termasuk hampir satu juta orang kembali ke Kyiv, ibu kota Ukraina.

Terkait jumlah korban tewas, tidak ada yang tahu pasti, bahkan PBB sekalipun. Klaim pemerintah masing-masing negara tidak dapat diverifikasi karena ketiadaan akses dan informasi ke sana. Organisasi tersebut hanya dapat memperkirakan.

Moskow yang telah merilis informasi tentang korban di antara pasukan dan sekutunya tidak memberikan laporan kematian warga sipil di daerah-daerah di bawah kendalinya. Di beberapa tempat seperti Mariupol, pasukan Rusia dituduh berusaha menutupi kematian dan membuang mayat ke kuburan massal.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, setidaknya puluhan ribu warga sipil telah tewas akibat perang. Di Mariupol saja, pejabat melaporkan setidaknya 21 ribu warga sipil tewas.

Zelenskyy mengatakan pada pekan ini bahwa 60 hingga 100 tentara Ukraina tewas dalam pertempuran setiap hari, dengan sekitar 500 lainnya terluka. Angka terakhir yang dirilis Rusia untuk pasukannya sendiri terjadi pada 25 Maret, ketika seorang jenderal mengatakan kepada media pemerintah bahwa 1.351 tentara telah tewas dan 3.825 terluka.

Di tingkat global, dampak perang kedua negara lebih parah. Rusia dan Ukraina merupakan salah satu pemasok biji-bijian global. PBB mencatat 1,5 miliar orang memerlukan makanan dan pupuk, yang sebagian besar berasal dari Rusia dan Ukraina.

Pasokan gandum telah terganggu di negara-negara Afrika. Benua tersebut mengimpor 44 persen gandum mereka dari Rusia dan Ukraina pada tahun-tahun sebelum invasi.

Bank Pembangunan Afrika telah melaporkan kenaikan 45 persen harga kontinental untuk biji-bijian. Kenaikan ini mempengaruhi segala sesuatu mulai dari couscous Mauritania hingga donat goreng yang dijual di Kongo.

Amin Awad, koordinator krisis PBB di Ukraina, mengatakan 1,4 miliar orang di seluruh dunia dapat terpengaruh oleh kekurangan biji-bijian dan pupuk dari negara itu. Meskipun tak ada sanksi terkait pangan, perang menyebabkan kapal-kapal untuk pengiriman pupuk dan makanan terhambat.

"Hari ini kita menandai tonggak sejarah yang tragis. Dan kita tahu apa yang paling dibutuhkan: Mengakhiri perang ini," katanya dilansir VOA pada Jumat (3/6/2022).

Tidak ada pemenang dalam perang Rusia-Ukraina. Seperti pepatah mengatakan, 'kalah jadi abu, menang jadi arang'. Perang tak mendatangkan keuntungan apapun, justru lebih banyak dampak buruknya, tak hanya bagi negara yang berperang tetapi juga bagi negara lain yang bergantung padanya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement