Senin 30 May 2022 14:27 WIB

Puluhan Kasus Covid-19 di Bantul Ditemukan dari Screening PTM

Sejak 23 Mei 2022 telah dilakukan screening Covid-19 di sejumlah sekolah di Bantul

Rep: Silvy Dian/ Red: Christiyaningsih
Sejumlah murid mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di ruang kelas. Satgas Penanganan Covid-19 DIY melaporkan puluhan kasus positif Covid-19 di Bantul dalam dua hari ini. Ilustrasi.
Foto: Antara/Feny Selly
Sejumlah murid mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di ruang kelas. Satgas Penanganan Covid-19 DIY melaporkan puluhan kasus positif Covid-19 di Bantul dalam dua hari ini. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID,  BANTU -- Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 DIY melaporkan puluhan kasus positif Covid-19 dalam dua hari ini. Kasus tersebut merupakan hasil screening yang dilakukan terhadap pelajar yang melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM).

Kepala Bagian Biro Umum Humas dan Protokol Setda DIY Ditya Nanaryo Aji mengatakan, puluhan kasus yang ditemukan dari screening tersebut didapat dari delapan sekolah yang ada di Kabupaten Bantul. Ia menjelaskan pada 28 Mei ditemukan 22 kasus positif Covid-19 dari screening.

Baca Juga

Berdasarkan hasil screening tersebut, dilakukan tracing lebih lanjut. Pada 29 Mei, kembali ditemukan 12 kasus positif dari hasil tracing.

Screening PTM yang dilakukan terhadap beberapa sekolah ini sudah dilakukan sejak 23 Mei 2022 lalu. Direncanakan, screening PTM di sekolah ini akan terus dilakukan hingga 5 Juni di Kabupaten Bantul.

"Penelusuran kontak erat baru dilaksanakan oleh masing-masing puskesmas di wilayah kerja sekolah dengan hasil screening positif dan hasil masih dalam proses pemeriksaan," kata Ditya, Senin (30/5/2022).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, total pelajar yang sudah di-screening mencapai 384 pelajar. Sebanyak 354 pelajar di antaranya mendapatkan hasil negatif dan 30 pelajar mendapatkan hasil positif. "Positive rate Covid-19 sebesar delapan persen," ujar Ditya.

Ia menjelaskan, di Bantul akan terus dilakukan screening terhadap pelajar. Total ada 60 sekolah yang disasar yang terdiri dari 40 SD/MI, 12 SMP/MTs, dan delapan SMA/SMK/MA.

Dari 60 sekolah tersebut terdiri dari 151.905 warga sekolah. Meskipun begitu, hanya 2.431 orang yang akan dijadikan sampel untuk screening di sekolah ini. "2.431 orang terdiri dari 1.350 pelajar SD/MI, 718 pelajar SMP/MTs, dan 363 pelajar SMA/MA," jelas Ditya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement