Sabtu 19 Mar 2022 11:26 WIB

Ketua Alumni Al-Azhar: Kebijakan Erick Thohir Cerminkan Nilai Islam Wasathiyah

Islam wasathiyah mencakup aktivitas ekonomi, sosial, budaya dan politik.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Ketua Organisasi Alumni Al-Azhar Internasional (OIAA) Cabang Indonesia, Tuang Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi.
Foto: Istimewa
Ketua Organisasi Alumni Al-Azhar Internasional (OIAA) Cabang Indonesia, Tuang Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Organisasi Alumni Al-Azhar Internasional (OIAA) Cabang Indonesia, Tuang Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, menyampaikan, kebijakan Menteri BUMN, Erick Thohir dalam bidang BUMN dan ekonomi syariah telah mencerminkan nilai-nilai dalam Islam wasathiyah karena mendorong keseimbangan.

"Setiap kebijaka yang beliau ambil, khususnya terkait BUMN dan aktivitasnya di republik ini, mudah-mudahan kalau kita lihat, mencerminkan nilai-nilai dalam wasathiyyatun-Islam," kata TGB dalam Pembukaan Multaqa ke-7 Alumni Al-Azhar Mesir Indonesia di Mataram, Sabtu (19/3/2022).

Baca Juga

TGB mengatakan, satu hal yang mencolok, yakni komitmen pemerintah dalam memperkenalkan dan memperkuat ekonomi Islam. Salah satunya kebijakan merger bank-bank syariah milik BUMN menjadi satu dan mulai menciptakan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional.

"Menjadi menteri adalah amanah untuk memastikan seluruh BUMN atas nama negara bisa menghadirkan kesejahteraan untuk seluruh rakyat. Jadi tidak hanya good governance (pengelolaan) tapi masalahat untuk bangsa," katanya.

 

Menurut dia, ekonomi syariah pun sangat penting di Indonesia. Sebab, kemajuan ekonomi syariah dengan modal yang dimiliki Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, akan mendorong kemajuan ekonomi secara keseluruhan.

Islam wasathiyah, kata TGB, tidak hanya untuk meluruskan teks-teks agama, menolak ekstermisme hingga radikalisme. Namun, merupakan cara pandang komprehensif yang ditawarkan Islam untuk kehidupan umat manusia.

Karena itu, Islam wasathiyah mencakup aktivitas ekonomi, sosial, budaya dan politik. "Maka, dalam bicara wasathiyyatun-Islam pada konteks ekonomi, kita harus memastikan aktivitas-aktivitas ekonomi baik oleh Indonesia maupun kelompok yang dilakukan negara harus hadirkan nilai keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan untuk semua serta keberlanjutan," katanya.

Menteri BUMN, Erick Thohir, mengatakan, Indonesia sangat kaya karena punya sumber daya alam dan penduduk yang produktif. Itu sebabnya, ekonomi Indonesia diprediksi akan tumbuh terus hingga 2045 yang akan menempatkan Indonesia menempati peringkat keempat ekonomi terbesar di dunia. Dengan kata lain, Indonesia akan menjadi negara ekonomi muslim terbesar di dunia.

Sementara itu, populasi muslim dewasa kelas menengah akan tumbuh dari 161 juta orang menjadi 184 juta orang. Dari segi pendapatan, pangsanya akan makin kuat dari 39 persen menjadi 57,6 persen.

"Namun, ada yang menggelitik. Ketika bicara ekonomi keislaman, kita sangat konsumstif (produk halal) dan itu nomor empat terbesar di dunia namun ketika bicara produksinya, lima besar pun tidak masuk. Jadi ada yang salah. Kita hanya tumbuh konsumsinya tapi produksinya tidak," kata Erickt.

Hal itulah, kata dia, yang menjadi salah satu dasar pemerintah melakukan penggabungan bank syariah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Sebab, dengan adanya institusi keuangan syariah yang terpusat, pemerintah bisa mendorong keseimbangan.

"Inilah mengapa kami di BUMN harus mengintervensi dan memastikan, kalau memang tidak ada keseimangan harus kita coba seimbangkan," ujarnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement