Ahad 27 Feb 2022 00:35 WIB

Kadin Jatim Ingatkan Inflasi Dalam Negeri Akibat Konflik Rusia-Ukraina

Inflasi bisa terjadi karena kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Rusia-Ukraina.

Inflasi, ilustrasi
Foto: Pengertian-Definisi.Blogspot.com
Inflasi, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto mengingatkan seluruh pemegang kebijakan di Tanah Air terkait inflasi dalam negeri, imbas konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Adik mengatakan, inflasi bisa terjadi karena kenaikan harga minyak dunia, dan kenaikan nilai tukar dolar AS akibat terjadinya perang tersebut.

"Sebenarnya kalau dampak langsung hampir tidak ada, karena nilai ekspor dan impor Jatim ke dua negara itu sangat kecil. Tetapi ada kemungkinan kenaikan harga minyak dunia dan nilai tukar dolar dikhawatirkan mempengaruhi inflasi dalam negeri, karena adanya kenaikan harga berbagai komoditas dan jasa," ujar pengusaha asal Kota Batu tersebut di Surabaya, Sabtu (26/2/2022).

Baca Juga

Menurut dia, Rusia adalah salah satu negara penghasil minyak cukup besar di dunia. Dengan terkendala pasokan minyak dari Rusia selama peperangan, kemungkinan harga minyak dunia akan naik.

Sehingga, ada dua alternatif yang harus dipilih oleh pemerintah, pertama menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri atau dengan meningkatkan subsidi."Walaupun kenaikan harga minyak dunia ini juga memberikan angin segar untuk industri migas dalam negeri. Dan pastinya juga akan meningkatkan pendapatan negara bukan pajak yang berasal dari migas," katanya.

Selain bisa menyebabkan kenaikan harga minyak dunia, perang juga diperkirakan membuat masyarakat dunia berpotensi melakukan spekulasi dengan membeli dolar."Pantauan saya sampai hari ini posisi rupiah masih kuat. Hari ini rupiah ditutup naik 0,19 persen ke level Rp14.364 per dolar Amerika. Semoga saja rupiah tetap perkasa dan tidak mengalami gejolak," katanya.

Adik mengimbau agar semua pemangku kepentingan tetap waspada dengan menjaga laju inflasi agar kinerja ekonomi Indonesia, khususnya Jawa Timur tidak kembali terkoreksi. Untuk nilai ekspor, menurut dia, Jatim memiliki nilai ekspor nonmigas di dua negara tersebut, namun sangat kecil, dan sesuai Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim ekspor nonmigas Jatim ke Rusia di tahun 2020 mencapai 103,882 juta dolar AS, dan di 2021 mencapai 128,077 juta dolar AS.

Besaran nilai ekspor ini hanya berkontribusi sebesar 0,6 persen terhadap total ekspor Jatim di 2020 yang mencapai 18,270 miliar dolar AS dan di 2021 sebesar 21,301 miliar dolar AS."Beberapa komoditas ekspor nonmigas Jatim ke Rusia di antaranya adalah alas kaki, lemak dan minyak nabati/hewani, bahan kimia organik, kakao dan olahannya, makanan olahan, kapas, ikan dan udang, kertas dan karton, buah, kopi, teh dan rempah," katanya.

Sementara impor Jatim dari Rusia juga cukup kecil. Di tahun 2021 mencapai 310,950 juta dolar AS atau sekitar 1,4 persen dari total impor Jatim yang mencapai 21,387 miliar dolar AS, dengan komoditas impor di antaranya pupuk, besi dan baja, garam, belerang dan kapur, ikan dan udang, gandum, kertas dan karton, senjata dan amunisi serta bubur kayu dan batu serta barang dari kayu.

Sedangkan ekspor nonmigas Jatim ke Ukraina juga sangat kecil. Di tahun 2020, ekspor non migas Jatim ke Ukraina mencapai 11,119 juta dolar AS dan di tahun 2021 mencapai 14,801 juta dolar AS atau sekitar 0,06 persen dari total ekspor Jatim.

Beberapa komoditas ekspor Jatim ke Ukraina di antaranya adalah alas kaki, kakao dan olahannya, lemak dan minyak nabati/hewani, bahan kimia organik, kertas dan karton, kopi, teh dan rempah, kayu dan barang dari kayu, kendaraan dan bijih logam.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement