Rabu 02 Feb 2022 06:59 WIB

Mungkinkah Mudik Tahun Ini Dibolehkan?

Muncul opini liar tentang lonjakan Covid-19 ‘dibuat’ untuk membatasi orang mudik.

Di tengah masa kenaikan covid-19, masyarakat mulai bertanya-tanya apakah mudik 2022 akan diperbolehkan. Foto petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menyemprotkan disinfektan di salah satu sekolah di Depok, Jawa Barat, Senin (31/1/2022).
Foto: Antara/Asprilla Dwi Adha
Di tengah masa kenaikan covid-19, masyarakat mulai bertanya-tanya apakah mudik 2022 akan diperbolehkan. Foto petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menyemprotkan disinfektan di salah satu sekolah di Depok, Jawa Barat, Senin (31/1/2022).

Oleh : Mas Alamil Huda, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Lonjakan kasus Covid-19 akibat varian omikron saat ini agak berbeda dengan sebelumnya. Yang saya maksud berbeda bukan soal sifat atau katakteristik virusnya, tetapi respons masyarakat. Kini kita rasakan suasananya tak semencekam seperti pertengahan tahun lalu saat Indonesia dihantam gelombang varian delta.

Orang-orang kini santai saja meski penularan sudah belasan ribu kasus per hari. Pusat perbelanjaan masih ramai, jalanan padat, aktivitas juga seperti biasa saja. Mungkin mereka merasa sudah lebih siap dan pengalaman menghadapi Covid-19, merasa jenuh, meyakini omikron tidak berbahaya, atau bahkan ada yang sudah atau makin tidak percaya. Atau sangat mungkin juga akumulasi dari itu semua.

Sering saya mendapat pertanyaan dari teman, tetangga, saudara, tentang perkembangan kasus omikron di Tanah Air. Biasanya saya jawab normatif, “omikron lagi naik”. Dan hampir selalu saya menanya balik. Sekadar untuk tahu bagaimana posisi mereka menyikapi Covid-19 saat ini. Jawabannya adalah kurang lebih beberapa kemungkinan yang saya kemukakan di atas.

Yang menarik juga adalah komentar dari masyarakat di media sosial. Hampir di semua akun medsos media mainstream, komentar tentang berita Covid-19 sebagian besar nyinyir. Oh iya, sengaja saya tidak mengambil sampel komentar dari sumber yang tidak kredibel. Setidaknya isi berita yang menjadi sumber bacaan harus terpercaya untuk memastikan informasinya akurat. Ini penting.

 

Kembali lagi, sebagian besar yang mengomentari berita terkait Covid-19 memang cukup vulgar. Apalagi ketika narasumber di berita itu adalah Pak Luhut, Menko Maritim dan Investasi. Entah mengapa, pernyataan apapun dari Pak Luhut, jarang sekali saya menemui respons positif. Tidak hanya di medsos, di kenyataan pun demikian. Penuh skeptis dan bahkan ketidakpercayaan. Kecuali akun pendengung yang isinya template pujian yang ditempel dari kolom komentar ke komentar lainnya. Barangkali butuh tulisan sendiri soal Pak Luhut dan ketidakpercayaan publik ini.

Respons yang juga mendominasi medsos adalah terkait lonjakan kasus dan momentum Ramadhan berikut Lebaran. Seorang teman bahkan sudah declare, boleh atau tidak, tahun ini harus mudik. Orang yang percaya bahwa lonjakan ini ‘dibuat’ sedemikian rupa untuk membatasi orang mudik nyatanya cukup masif. Sekali lagi, ini tidak hanya di medsos. Saya tidak tahu awal mulanya bagaimana dan informasi macam apa yang mereka konsumsi.

Mudik di hari Lebaran memang momentum istimewa bagi para perantau, dan tidak bisa diganti dengan pulang kampung di hari lain. Sangat berbeda secara psikologis maupun kultural. Dua kali Lebaran terakhir pemerintah membatasi mudik. Bukan hanya ASN yang ‘diharamkan’ mudik, pekerja swasta dan lainnya juga menjadi sangat terbatas ruang geraknya untuk pulang kampung. Jika gelombang omikron kali ini belum reda hingga setidaknya pada bulan puasa, ya bisa saja mudik dilarang ulang.

Tetapi ada isyarat baik dari otoritas. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito pada pekan lalu menyatakan, untuk pertama kalinya Indonesia berhasil melewati periode libur panjang Natal dan Tahun Baru 2021 tanpa mengalami lonjakan kasus yang tajam. Artinya, secara tidak langsung ia menyatakan lonjakan yang saat ini terjadi bukan karena libur panjang akhir tahun kemarin.

Di sepanjang 2020 hingga 2021, data memang menunjukkan lonjakan kasus selalu terjadi pada setiap momentum libur panjang. Dengan pengalaman libur Nataru yang tidak menaikkan kasus itu, bisa saja pemerintah tak lagi membatasi masyarakat mudik di tahun ini. Tetapi jangan lupa, catatannya banyak. Di antaranya kasus yang terkendali dengan tingkat penularan sangat rendah seperti di bulan Desember tahun lalu.

Bagaimana dengan penularan omikron yang saat ini terus bertambah dari hari ke hari? Pemerintah memproyeksikan puncaknya akan terjadi pada akhir Februari hingga awal Maret mendatang. Dengan asumsi optimistis, kasus akan mulai melandai pada pertengahan Maret hingga April. Jika tren penurunan terus membaik, semoga mudik tidak lagi dibatasi.

Bebas saja jika sebagian di antara kita menganggap omicron ini tidak berbahaya. Tapi jangan lupa juga, ada belasan kematian di tengah tambahan kasus harian belasan ribu. Meski secara statistik angka fatality rate rendah, tetapi ada saudara-saudara kita yang kehilangan anggota keluarganya.

Di sisi lain, pemerintah juga tidak ada tanda-tanda akan membatasi pergerakan masyarakat saat ini. Presiden Jokowi pun sekadar mengimbau dan mengingatkan kita untuk menjaga diri kita masing-masing. Bekerja dari rumah atau WFH yang menjadi instrumen pembatasan pergerakan setiap kali kasus Covid-19 naik, saat ini tak lebih sebatas imbauan, bukan sebuah mandatori.

Bagi yang meyakini kenaikan kasus saat ini karena skenario pembatasan ibadah Ramadhan secara berjamaah dan larangan mudik, tolong pikirkan ulang. Kita punya tanggung jawab yang sama untuk mengendalikan penularan Covid-19. Patuhi protokol kesehatan secara disiplin. Jika sampai harus terinfeksi omikron, semoga vaksinasi yang menjadi ikhtiar mampu membantu kita untuk melawannya.

Semoga Indonesia segera pulih dan kita semua senantiasa sehat. Aamiin.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement