Senin 10 Jan 2022 18:55 WIB

Paus Fransiskus Doakan Korban Jiwa dalam Demonstrasi di Kazakhstan

Paus berharap keharmonisan di Kazakhstan dapat kembali pulih.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
Paus Fransiskus menyampaikan pesannya saat ia merayakan Misa untuk kekhidmatan St. Maria pada awal tahun baru, di Basilika Santo Petrus, di Vatikan, Sabtu, 1 Januari 2022.
Foto: AP/Andrew Medichini
Paus Fransiskus menyampaikan pesannya saat ia merayakan Misa untuk kekhidmatan St. Maria pada awal tahun baru, di Basilika Santo Petrus, di Vatikan, Sabtu, 1 Januari 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, VATIKAN -- Paus Fransiskus mengutarakan kesedihan atas jatuhnya korban jiwa selama aksi protes menentang kenaikan harga bahan bakar gas cair yang berlangsung di Kazakhstan. Dia berharap keharmonisan di negara bekas Uni Soviet itu dapat segera pulih.

“Saya telah mempelajari dengan sedih bahwa ada korban selama protes yang pecah dalam beberapa hari terakhir di Kazakhstan. Saya berdoa untuk mereka dan keluarga mereka, dan saya berharap keharmonisan sosial akan dipulihkan sesegera mungkin melalui pencarian dialog, keadilan, dan kebaikan bersama,” kata Paus Fransiskus saat berbicara di Lapangan Santo Petrus, Ahad (9/1/2022).

Baca Juga

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kazakhstan telah mengumumkan, terdapat 164 korban jiwa selama aksi protes menentang kenaikan harga bahan bakar gas cair berlangsung. Dua di antara korban tewas adalah anak-anak. Kendati demikian, Kemenkes Kazakhstan tak menjelaskan apakah jumlah korban jiwa itu hanya dari pihak demonstran atau gabungan dengan aparat keamanan.

Selain korban jiwa, otoritas keamanan Kazakhstan dilaporkan telah menahan lebih dari 5.100 demonstran. Meski kini sudah berangsur pulih, ketegangan masih terasa di beberapa kota di Kazakhstan. Di kota terbesar, yakni Almaty, masih terdengar letupan tembakan secara sporadis pada Ahad. Tak jelas apakah itu merupakan tembakan peringatan oleh aparat atau bukan.

Kabinet pemerintahan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev telah mundur merespons gelombang demonstrasi yang berlangsung sejak 2 Januari lalu. Tokayev sendiri tak terlalu bersimpati pada aksi massa di sana. Dia mengklaim aksi tersebut ditunggangi asing dan dipimpin oleh “teroris”.

Dalam proses pemulihan ketertiban, Tokayev meminta bantuan Collective Security Treaty Organisation (CSTO), sebuah aliansi keamanan yang didukung Rusia. Tokayev sempat menjalin percakapan via telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dia menginformasikan perkembangan situasi di negaranya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement