Kamis 05 Aug 2021 05:32 WIB

Jangan Lupa Bahagia

Dalam kondisi pandemi, satu hal penting adalah bahagia dan menularkan kebahagiaan.

Kebahagiaan yang menular/ilustrasi
Foto: salon.com
Kebahagiaan yang menular/ilustrasi

Oleh : Yudha Manggala Putra, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Oktober 2020 lalu, penulis sempat didiagnosis positif Covid-19 dan menjalani pemulihan di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Kemayoran Jakarta. Alhamdulillah. Banyak doa dan dukungan dari keluarga serta teman saat itu. Dari sekian pesan baik mereka, ada yang sulit terlupa. Salah satunya berbunyi, “Jangan lupa bahagia”.

Ya. Kalimatnya sederhana. Penulis pun sering mendengar sebelumnya. Namun, entah kenapa - saat itu - makna dan pengaruhnya terasa lebih istimewa. Hingga sekarang.

Sejak diumumkan, wabah Covid-19 menjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka. Dampaknya luar biasa. Ia mengusik banyak kenormalan dan tatanan hidup kita sebagai manusia. Bukan sekadar menyerang badan. Pikiran dan perasaan pun ikut diaduknya.

Dari takut, penat, cemas, stres, hingga gampang marah. Pernahkan merasakan ini selama pandemi? Jika menjawab iya, Anda tidak sendirian. Penulis pun ikut menanggung masalah sama. Banyak orang lain tampaknya mengalami masalah serupa.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) melakukan survei daring kesehatan mental pada April-Agustus 2020. Survei ini melibatkan 4.010 pengguna swaperiksa yang berasal dari 34 provinsi di Tanah Air.

Hasilnya menunjukkan 64,8 persen responden mengakui mengalami masalah psikologis selama lima bulan pandemi. PDSKJI mengelompokan masalah ini dalam tiga kategori, yakni cemas, depresi, dan trauma.

Cemas meliputi gejala khawatir berlebihan, mudah marah/jengkel, dan sulit rileks. Depresi terkait gangguan tidur, kurang percaya diri, lelah tidak bertenaga, dan kehilangan minat.  Sebesar 60 persen lebih - dari total responden dengan masalah psikologis – mengaku mengalami dua masalah ini.

Sementara trauma psikologis meliputi pengalaman atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait Covid-19. Gejalanya: merasa terpisah dari orang lain, waspada terus menerus, mudah marah dan kesal, sulit tidur, hingga tingkat konsentrasi bermasalah. Berdasarkan survei, sebanyak 75 persen responden mengalami gejala-gejala ini.

Sejauh ini PDSKJI tidak membahas detail apa saja faktor penyebab berbagai masalah dalam survei tersebut. Namun, beberapa pandangan psikolog dan pakar kesehatan jiwa, yang penulis rangkum, mungkin menjawabnya.

Salah satu penyebab masalah mental yang kerap dikaitkan dengan pandemi adalah rasa ketakutan. Sejak mewabah, tidak sedikit orang merasa takut dirinya atau anggota keluarganya tertular virus.

Perasaan ini menguat ketika membayangkan skenario terburuk bila terjangkit (dirawat intensif dan kematian). Ditambah situasi penyebaran virus kian cepat dan meluas. Terjadinya pun di lingkaran sosial terdekat, dimana teman dan kerabat menjadi korban.

Pemicu lainnya adalah perubahan kebiasaan. Pandemi dengan segala keterbatasannya, memaksa masyarakat beradaptasi terhadap perilaku baru. Belakangan kita mengenal kebijakan kerja di rumah, sekolah/kuliah di rumah dan pembatasan aktivitas sosial (PSBB, PPKM, dan turunannya). Beberapa kebijakan ini dapat menambah tekanan dan beban.

Sekolah di rumah misalnya, membuat orang tua merasa mendapat tekanan tambahan menggantikan fungsi guru mendidik anak. Sementara bagi anak, diam saja di rumah, membosankan dan bikin stres.

Sementara itu, di sisi lain, masa pandemi juga mempengaruhi ketidakstabilan ekonomi. Pembatasan sosial terbukti berefek domino. Sejumlah besar aktivitas usaha dan industri melemah. Mereka merugi. Sebagian terpaksa melakukan PHK, pengurangan upah, hingga merumahkan sementara pekerja. Situasi sulit ini mampu membuat para terdampak kehilangan tujuan hidup, perasaan cemas, khawatir, dan takut masa depan.

Penyebab ini mungkin sebagian kecil saja. Data-data survei masalah kesehatan mental sebelumnya juga mungkin masih berubah-ubah. Namun satu hal sulit diabaikan, di balik wabah virus ini, ancaman kesehatan mental bergerilya. Butuh dipandang penuh waspada.

Ok, ok.  Sampai di sini, ada baiknya kita setop sejenak. Hirup napas dalam-dalam lalu embuskan pelan lewat mulut. Huuuffthhh....

Mari sebentar kita kenali dulu. Takut, stres, dan cemas pada dasarnya respons normal manusia terhadap tekanan atau bahaya (WHO, 2020). Stres, dalam situasi tertentu, konon dapat meningkatkan fungsi otak. Jadi, bila mengalaminya saat pandemi, bisa dimaklumi sebagai hal manusiawi.

Yang perlu diwaspadai dan dicegah adalah bila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, intens, dan kronis. Ini bisa sangat berbahaya. Karenanya penting untuk meredam sebelum sulit dikendalikan.

Caranya bagaimana? Banyak referensi dan layanan konsultasi bisa Anda dapatkan. Tergantung pula kondisi. Bila sudah tahap parah, jangan tunda temui dokter psikiatri.

Pengalaman penulis, mengenali emosi negatif dan penyebabnya, termasuk langkah awal yang baik. Terutama saat fase ringan. Setelah itu, mulai belajar mengelola dan mengurangi gejalanya. Salah satunya dengan aktif mendorong hal positif. Misalnya dengan berbahagia. Ya bahagia.

Bahagia

Bahagia mungkin bermakna berbeda bagi setiap orang. Begitu juga cara mencapainya. Bagi penulis, salah satu menemukan bahagia adalah dengan bersyukur. Hal ini kadang mudah terlupakan. Apalagi saat ditimpa musibah. Padahal efeknya luar biasa.

Bersyukur masih bisa dilakukan meski di tengah kesusahan. Seringkali, terdapat nikmat tersembunyi, di balik ujian. Bersyukur.....

 

 

 

  

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement