Kamis 03 Jun 2021 10:21 WIB

Hentikan Polemik Seragam Sekolah

Sudah, hentikan polemik seragam sekolah

Pekerja mengepak seragam sekolah siap kirim di sentra konveksi Kauman, Yogyakarta, Jumat (28/5). Konveksi pakaian untuk seragam sekolah mulai menggeliat kembali. Usai pemberlakuan uji coba pembelajaran tatap muka menjadi harapan konveksi seragam sekolah. Biasanya seragam yang dibuat di sini seperti kaos olahraga dan kemeja identitas.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Pekerja mengepak seragam sekolah siap kirim di sentra konveksi Kauman, Yogyakarta, Jumat (28/5). Konveksi pakaian untuk seragam sekolah mulai menggeliat kembali. Usai pemberlakuan uji coba pembelajaran tatap muka menjadi harapan konveksi seragam sekolah. Biasanya seragam yang dibuat di sini seperti kaos olahraga dan kemeja identitas.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Jaya Suprana, Budayawan, Penggagas Rekor MURI, Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Akibat menyimak kenyataan betapa ganas laskar Nazi Adolf Hitler membantai kaum Yahudi serta laskar Revolusi Kebudayaan Mao Zedong melakukan kekerasan terhadap sesama warga Republik Rakyat China sementara kedua laskar ganas sama-sama mengenakan seragam maka saya menderita fobia terhadap seragam.

Fobia saya terbawa sampai juga terhadap seragam sekolah di Indonesia.

IDENTITAS

Alasan bahwa seragam sekolah demi melenyapkan kesenjangan sosial antara yang kaya dengan yang miskin jelas absurd. Sebab fakta membuktikan bahwa setelah usai sekolah ada murid yang dijemput dengan sepeda bahkan berjalan kaki, namun ada pula murid yang dijemput dengan mobil mulai dari Avanza sampai Lamborghini.

Yang tak terbantahkan adalah seragam sekolah merupakan sumber masukan dana tersendiri bagi pihak tertentu maka tradisi seragam sekolah gigih dipertahankan di persada Nusantara.

Secara ekonomis memang seragam sekolah sangat menguntungkan sebagai sumber nafkah para produsen tekstil mau pun para penjahit seragam sekolah.

Sementara di sisi lain tidak sedikit orang tua murid terpaksa sampai berhutang demi mampu membayar seragam sekolah yang diwajibkan untuk dibeli oleh setiap murid yang ingin menuntut ilmu di sekolah.

Sebagai jati diri sekolah terbukti bahwa seragam sekolah ampuh sebagai alat untuk memperlebar kesenjangan pamor antara sekolah favorit dengan sekolah bukan favorit. Bahkan, di samping itu menjadi identitas bagi para murid sekolah untuk menyelenggarakan tawuran seru antar siswa sekolah A melawan siswa sekolah B . 

BHINEKKA TUNGGAL IKA

Mujur-tak-bisa-diraih-malang-tak-bisa-ditolak, alih-alih mereda masalah seragam sekolah malah makin menjadi-jadi memperkeruh suasana yang sudah keruh. Ini akibat mendadak muncul polemik tentang pemaksaan seragam sekolah sebagai atribut keagamaan.

Yang kontra menganggap pemaksaan seragam sekolah sebagai atribut keagamaan merupakan pelanggaran hak asasi manusia serta pengingkaran kerukunan antar umat beragama sebagai jati diri kebanggaan peradaban bangsa Indonesia.

Yang pro meyakini bahwa kebijakan seragam sekolah sebagai atribut keagamaan merupakan hak asasi setiap sekolah serta justru merupakan pemantapan jati diri keagamaan.

Sebagai cantrik Gus Dur, saya pribadi tidak setuju pemaksaan seragam sekolah sebagai atribut keagamaan karena sama sekali tidak selaras warisan kearifan Gus Dur tentang sukma adiluhur terkandung di dalam Bhinneka Tunggal Ika serta mashab agamamu agamamu, agamaku agamaku sebagai pilar utama kerukunan antar umat beragama sekaligus juga sebagai perekat utama Persatuan Indonesia.

Marilah kita hentikan kemelut mubazir polemik seragam sekolah agar bisa lebih mefokuskan seluruh enerji lahir-batin demi membangun Indonesia menuju masyarakat adil-makmur bersama hidup di negeri gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta raharja. MERDEKA !

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement