Selasa 26 Jan 2021 06:36 WIB

Mamuju, Raksasa yang Istirahat Sejenak

Gempa menghancurkan sendi-sendi kota Mamuju.

Sejumlah anak memperlihatkan gambar saat mengikuti pembelajaran di tenda pengungsian Stadion Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (23/1/2021). Relawan memberikan kegiatan yang mendidik dan menghibur anak-anak korban gempa untuk menghilangkan trauma.
Foto: Antara/Akbar Tado
Sejumlah anak memperlihatkan gambar saat mengikuti pembelajaran di tenda pengungsian Stadion Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (23/1/2021). Relawan memberikan kegiatan yang mendidik dan menghibur anak-anak korban gempa untuk menghilangkan trauma.

Oleh : Andi Nur Aminah*

REPUBLIKA.CO.ID, Mamuju, kota ini memiliki arti tersendiri bagi saya. Masa kecil, dari SD hingga SMP saya habiskan di Kota Manakarra ini. Memori saya masih kuat mengingat awal pertama menjadi pendatang, saat ayah saya ditugaskan di kota ini.

Untuk tiba di Mamuju, butuh waktu dua hari dari Makassar. Makassar-Mamuju jaraknya 447 kilometer. Hari pertama perjalanan dari Makassar, waktu dihabiskan untuk melintasi tujuh kabupaten.

Biasanya kami akan menginap di Kota Majene. Meluruskan punggung sejenak setelah seharian duduk di mobil dan bersiap untuk perjalan esok harinya ke Mamuju.

Mamuju dan Majene, dua wilayah yang berbatasan. Jaraknya, jika merujuk peta sekitar 200-an kilometer. Separuh perjalanan memang. Namun medan yang sangat berat, membuat rute ini harus dilalui sehari lagi.

Kendaraan yang melintasinya pun hanya jenis tertentu, kelasnya seperti Jeep, Toyota Hardtop atau minimal Kijang. Dan biasanya, mobil-mobil ini akan dilengkapi dengan parang, tali, linggis atau cangkul.

Alat-alat ini siap digunakan saat di perjalanan tiba-tiba ban mobil jeblos ke dalam lumpur. Linggis bisa dipakai mengungkit jembatan dari batang pohon kelapa yang mungkin tak sempurna posisinya untuk dilintasi mobil. Tali bisa dipakai menarik mobil yang terjebak di lumpur, membantu melintasi anak sungai atau melintasi longsoran. Pokoknya, jalur Mamuju-Majene ibarat sedang offroad.

Dua wilayah ini memiliki topografi yang unik. Sebagian wilayahnya berada di garis pantai, sebagian lagi adalah wilayah pegunungan. Dulu banget, jika musim hujan tiba, bebebarapa titik longsor mudah ditemui. Kendaraan yang kondisinya tak siap berjibaku dengan lumpur, menyeberang sungai atau kadang harus menanjaki bukit, lebih baik memilih parkir dulu.

Di musim penghujan itu, kendaraan yang bisa tembus medan Majene-Mamuju, bisa dihitung dengan jari. Kondisi medan yang berat, membuat Mamuju dulu sering dijuluki menjadi 'Maju Mundur Jurang''.

Mamuju, memiliki wilayah yang luas dan membentang hingga perbatasan Sulawesi Tengah. Wilayah ini kaya sumber daya alam. Di sana ada tambang emas. Dahulu perkebunan cengkeh, kopi, coklat dan berbagai hasil bumi dengan sasaran eskpor sangat berlimpah.

Maka Mamuju sering dianalogikan sebagai 'raksasa yang sedang tidur'. Pembangunan Mamuju mulai terbuka sejak jalur trans Sulawesi dirintis dan beroperasi. Pelan-pelan raksasa tidur itu terbangun. Tak heran pula, saat krisis moneter 1997, banyak warga Mamuju justru menikmati aliran dolar dari penjualah ekspor hasil buminya. Belum lagi dari kekayaan hasil lautnya.

Saat pemekaran wilayah Propinsi Sulawesi Selatan dan diputuskannya Sulawesi Barat beribukota di Mamuju, raksasa itu kian bertaji. Mamuju tumbuh menjadi kota dengan pembangunan yang sangat pesat. Maka saat menginjakkan Mamuju kembali untuk pertamakalinya sejak saya tinggalkan lebih dari 10 tahun, mata saya terbelalak menyaksikan pesatnya pertumbuhan kota itu.

Lalu tiba-tiba, Jumat (15/1), sebuah guncangan gempa dahsyat M 6,2 terjadi. Sendi-sendi kota ini seperti remuk. Bangunan-bangunan runtuh termasuk gedung utama Kantor Gubernur Sulbar. Hotel, mal pertama dan terbesar di Sulbar yang belum lama beroperasi kini sebagian hancur. Rumah sakit ada yang rata dengan tanah, jempatan terputus, jalanan terbelah, tanah merekah, ratusan rumah hancur, dan ribuan warganya kini tersebar di kantong-kantong pengungsian.

Dari peristiwa ini, tercatat ada 91 jiwa yang meninggal dunia. Angka itu adalah jumlah korban keseluruhan yang berasal dari daerah terdampak yaitu Mamuju dan Majene. Data dari Korem 142/Taroada Tarogau Mamuju, di Mamuju ada 80 orang dan di Majene 11 orang.

Belum lagi yang luka-luka. Masih dari sumber yang sama dan dilaporkan ke BNPB, korban yang mengalami luka-luka berat sebanyak 404 orang, luka sedang 240 orang, dan luka ringan 1.474 orang.

Sejumlah warga pendatang pun kini sudah dipulangkan ke daerahnya masing-masing. Sebagian besar pulang ke Pulau Jawa. Gempa susulan hingga saat ini masih terus terjadi.

Di tengah ketidakpastian sampai kapan harus bertahan tidur di bawah tenda dan beralas seadanya saja, sebagian besar warga Manakarra saling menyemangati. Mata saya terasa hangat saat menyaksikan seorang kawan pemilik pabrik roti di Mamuju memposting di medsosnya, suasana di pengungsian.

Selembar tikar anyaman dan dua buah bantal terlihat bertumpukan dengan dus-dus mi instan dan air mineral. Ada sepiring nasi, telur dadar, kecap manis dan segelas air mineral. "Alhamdulilah, timbangan saya bisa naik ini tiap hari makan enak," tulisnya disertai emotikon mata berkaca-kaca. Satire!

Namun di balik itu, semangat dan optimisme dari warga Mamuju tetap terlihat. Kawan saya, seorang ASN menorehkan kalimat: Saya tak akan meninggalkan Mamuju tempatku lahir dan dibesarkan. Semoga cobaan ini segera berakhir, saya akan selalu di sini, bangkit dan bangun kembali Mamujuku. 

Tanggap bencana memang masih diperpanjang. Duka masih menyelimuti warga, trauma akan gempa susulan masih terus membayangi. Sabar, semangat, juga ber-tawakkallah pada ketetapan Sang Khalik saudara-saudaraku di Mamuju. Jika dulu kalian menunggu raksasa tidur itu terbangun, kini setelah bangkit, tampaknya Sang Kuasa memintanya beristirahat sejenak.

Apa hikmah dari titah beristirahat itu? Mari sama-sama memikirkannya dan cobalah bangkit mencarikan solusi. Semoga setelah rehat sejenak, tarik napas, akan lebih siap untuk bangkit kembali.

*) Penulis adalah jurnalis republika.co.id

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement