Rabu 18 Nov 2020 07:25 WIB

Muhammadiyah tak Lelah Menongkah Wabah

Sejak berdirinya di 18 November 1912, Muhammadiyah tetap istiqomah di jalan dakwah

KH Ahmad Dahlan dengan para siswa di Langgar Kidul Kauman, Yogyakarta. Di sini para haji sekaligus lulusan sekolah di Makkah dan merupakan abdi dalem kraton menjadi pelopor pergerakan Islam moderen.
Foto: pinteresr.com
KH Ahmad Dahlan dengan para siswa di Langgar Kidul Kauman, Yogyakarta. Di sini para haji sekaligus lulusan sekolah di Makkah dan merupakan abdi dalem kraton menjadi pelopor pergerakan Islam moderen.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Faozan Amar Sekretaris LDK PP Muhammadiyah dan Dosen Ekonomi Islam FEB Uhamka

Sejak berdiri 18 November 1912 hingga hari ini berusia 108 tahun, Muhammadiyah tetap istiqomah di jalan dakwah. Core utama dakwahnya ada dalam tiga bidang, yakni schooling (pelayanan pendidikan) healing (pelayanan kesehatan), dan feeding (pelayanan sosial), yang disering disebut dengan trisula Muhammadiyah. 

Kesemuanya lahir dan dilatar belakangi oleh kondisi kebodohan, kesehatan dan kemiskinan, baik dalam bidang agama, jasmani rohani, ilmu pengetahuan maupun kondisi sosial saat bangsa yang belum merdeka dalam cengkraman penjajahan Belanda. Dengan “wabah penyakit” kebodohan dan kemiskinan itu,  sebagai pendiri Muhammadiyah, Kiai Dahlan yang ketika muda bernama Muhammad Darwis hatinya resah dan tergerak mencari solusi bagi wabah penyakit sosial tersebut.

Ia mengajarkan surat Al Ma’un kepada para santrinya secara berulang-ulang, hingga santrinya bosan dan memprotesnya;

 

 “Kiai, mohon maaf mengapa materi pengajian tidak ditambah-tambah, hanya mengulang-ulang surat Al-Ma’un saja?” Tanya salah seorang santrinya yang bernama Sudjak. Kiai Dahlan kemudian balik bertanya: ”Apakah kalian sudah mampu membaca dengan baik surat ini?” “Sudah, Kiai.”“Sudah hafal?” “Sudah hafal juga, Kiai.” “Sudah faham arti dan kandungannya?” “Sudah, Kiai. Sudah hafal dan faham semua arti dan kandungannya.” “Apakah kalian sudah mengamalkannya?” “Sudah juga, Kiai. Kami senantiasa mengamalkan ayat ini dengan membaca berulang- ulang dalam shalat kami.” Mendengar jawab itu, lalu Kiai Dahlan menimpali: “Bukan itu maksud dari mengamalkan surat al-Ma‟un. Maksudnya adalah mengamalkan isi kandungannya dalam praktik. Kalau di situ ada larangan, maka jauhilah apa yang dilarang. Kalau di situ ada perintah, maka lakukanlah apa yang diperintahkan.” (www.suaramuhammadiyah.id) 

Kemudian Kiai Dahlan menyuruh para santrinya untuk mencari kaum miskin di sekitar Kauman Yogyakarta tempat mereka mengaji dan disuruh untuk menyantuni mereka semampunya. Inilah cara mengajar Kiai Dahlan. Membimbing muridnya hingga mengamalkan apa yang dilarang dan diperintahkan al-Qur’an. Beliau tidak hanya menyampaikan teori-teori, tapi mengarahkan para santrinya melaksanakan praktik dakwah lapangan. 

Al-Ma’un merupakan surat ke-107 dan tergolong surah Makkiyah serta terdiri atas 7 ayat. Kata Al Maa’uun sendiri berarti bantuan penting atau hal-hal berguna, diambil dari ayat terakhir dari surat ini. Pokok isi surat menjelaskan ancaman terhadap mereka yang tergolong menodai agama, yakni mereka yang menindas anak yatim, tidak menolong orang yang meminta-meminta, riya’ (ingin dipuji sesama manusia) dalam salatnya, serta enggan menolong dengan barang-barang yang berguna. 

Dahlan mengajarkan Al Qur’an kepada para santrinya agar ; 1). Mampu membaca dengan baik dan benar, 2). Memahami arti dan tafsirnnya, 3). Mengamalkannya dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui pengajaran cara ini, Kiai Dahlan hendak menghadirkan ajaran Islam sebagai penggerak perubahan sosial. Sebuah ajaran yang dapat mentransformasikan kehidupan ke arah yang lebih baik. Inilah spirit perjuangan dakwah Kiai Dahlan yang di kemudian hari dituangkan ke dalam misi besar Persyarikatan Muhammadiyah. 

Apa yang dilakukan Kiai Dahlan sejalan dengan pandangan Sosiolog Max Weber (1894-1920) yang memberikan pandangan cukup positif pada keberadaan agama dan sangat menekankan hubungan antara agama dengan perubahan sosial. Agama bagi Weber bisa menjadi kekuatan pendorong bagi terjadinya gerakan-gerakan sosial untuk bisa menghasilkan transformasi sosial yang luar biasa. 

Setelah 75 tahun merdeka, wabah penyakit ketimpangan sosial, keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan masih melanda negeri ini, walaupun jumlahnya terus menurun. Itulah keadaan yang dialami masyarakat Indonesia yang secara mayoritas beragama Islam. Situasi ini dapat dilihat dengan terang benderang oleh siapa pun dan di mana pun di penjuru negeri ini. Dan Muhammadiyah didirikan untuk menjawab tantangan zaman, menawarkan solusi persoalan keumatan dan kebangsaan sebagai ladang dakwah. 

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa dakwah pencerahan yang dilakukan oleh Muhammadiyah mempunyai tiga prinsip utama yang disingkat menjadi 3E, yaitu: enlighting (mencerahkan), empowering (memberdayakan), dan entertaining (menggembirakan). 

Dakwah enlighting dengan mengeluarkan manusia dari tahayul kepada iman yang diterangi ilmu pengatahuan sehingga menjadi tercerahkan. Kemudian empowering dimaksudnya agar manusia berdaya, dapat bangkit bergerak berjuang bersama untuk mengubah keadaan secara mandiri. Sedangkan entertaining adalah dengan menghadirkan solusi-solusi nyata dalam kehidupan sehingga menggembirakan karena kompatibel dengan realitas kehidupan dan problematika yang dihadapi manusia. 

Ketika terjadi wabah pandemi Covid-19 melanda negeri ini, Muhammadiyah bergerak cepat meresponnya. Setelah beberapa jam Presiden Jokowi mengumumkan kasus positif pada 2 Maret, Haedar Nashir selaku Ketua Umum menyampaikan kesiapan Muhammadiyah membantu Pemerintah dengan menyiapkan 15 rumah sakit. Kemudian membentuk tim khusus penanggulangan Covid-19, yakni Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dengan tugas pokok mengobati, mitigasi dan menangani dampak Covid1-1.9. Hingga sekarang dana yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah mencapai Rp. 307,48 miliar yang berasal dari Lazismu, mitra pendukung, swasta dan pemerintah.  

Karena itulah, tema yang diusung pada milad ke-108 tahun 2020 ini adalah "Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri". Tema yang diangkat untuk mempertegas gerak, sikap, dan kebijakan Muhammadiyah dalam menghadapi keragaman paham, pandangan, dan orientasi keagamaan yang tumbuh dan berkembang, kata Haedar dalam konferensi pers virtual bersama media, Senin (16/11/2020). 

Berdasarkan uraian tersebut, walaupun kelasnya masih pembantu pemerintah, meminjam ungkapan Buya Syafii Maarif, sejak berdiri Muhammadiyah tak kenal lelah menangkal wabah penyakit kemanusian, hingga hari ini. Maka kita layak memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Selamat Milad 108 tahun Muhammadiyah. Wallahualam.  

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement