Jumat 06 Mar 2020 15:25 WIB

Kalteng Larang Awak Kapal Asing Turun ke Darat, Cegah Corona

Kalteng menyiapkan rumah sakit rujukan yang dilengkapi ruang isolasi pasien corona.

Red: Nur Aini
Model tiga dimensi dari partikel virus SARS-CoV-2 virus atau dikenal sebagai 2019-nCoV. Virus tersebut adalah penyebab Covid-19 atau virus corona jenis baru.
Foto: EPA-EFE/NATIONAL INSTITUTES OF HEALTH
Model tiga dimensi dari partikel virus SARS-CoV-2 virus atau dikenal sebagai 2019-nCoV. Virus tersebut adalah penyebab Covid-19 atau virus corona jenis baru.

REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKA RAYA -- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah (Dinkes Kalteng), Suyuti Syamsul menyebutkan, pemerintah provinsi di bawah arahan Gubernur provinsi itu, Sugianto Sabran siap mencegah penyebaran virus COVID-19. Pihaknya terus melakukan koordinasi lintas sektor untuk mengeleminasi berbagai kemungkinan penyebaran virus, termasuk melarang awak kapal asing turun ke daratan di Kalteng, katanya di Palangka Raya, Jumat (6/3).

"Melalui instansi terkait, kami mulai menyekat agar awak kapal asing tidak ke daratan, cukup berada di kapalnya saja terus menerus," kata Suyuti.

Baca Juga

Selain itu, pihaknya telah menyiapkan rumah sakit rujukan yang dilengkapi ruang isolasi di Palangka Raya. Selama ini, pasien yang dirujuk dan masuk ruang isolasi dinyatakan negatif.

Menurutnya, berdasarkan data yang pihaknya miliki ada lima pasien yang telah ditangani, empat diisolasi terdiri dari dua pasien sudah keluar dinyatakan negatif dan dua orang lainnya masih menunggu hasil. "Kemudian satu lainnya karena telah melewati masa inkubasi hanya kami pantau di luar dan juga dinyatakan aman," ujar dia.

Ia menjabarkan ada dua kategori, yakni pasien dengan pantauan dan orang dengan pantauan. Pasien dengan pantauan itu dimasukkan ke ruang isolasi, sedangkan orang dengan pantauan hanya dipantau, namun pada dasarnya ia dalam kondisi aman dan tidak bermasalah.

Suyuti meminta agar masyarakat peduli dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya. Rutin mencuci tangan hingga tidak melakukan budaya cium pipi untuk saat ini. Kemudian masyarakat diminta tidak panik dan tidak melakukan aksi borong masker. Sebab, sia-sia saja jika yang menggunakan masker adalah seseorang yang sehat, sedangkan yang sakit tidak menggunakan masker.

"Kematian adalah sesuatu yang berat, namun secara statistik, angka kematian penyakit ini tak beda jauh dengan penyakit lain yakni 2 hingga 3 persen. Jika 100 yang kena, maka kemungkinan meninggal 2 hingga 3," ujarnya.

Selama ini berdasarkan data yang ada, mereka yang meninggal karena virus COVID-19 hampir semuanya memiliki penyakit lain atau komplikasi, serta rata-rata memiliki usia sudah tua.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement