Selasa 27 Jun 2017 14:35 WIB

GNPF Tegaskan tak Ada Ormas Terima Uang dari Presiden

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil
Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir (ketiga kiri) bersama Wakil Ketua GNPF-MUI Zaitun Rasmin (kedua kanan) meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan usai bertemu Presiden Joko Widodo di Jakarta, Ahad (25/6).
Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir (ketiga kiri) bersama Wakil Ketua GNPF-MUI Zaitun Rasmin (kedua kanan) meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan usai bertemu Presiden Joko Widodo di Jakarta, Ahad (25/6).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Ustadz Bachtiar Nasir menegaskan, tidak ada transaksi apapun dari pertemuan antara GNPF-MUI dan Presiden Joko Widodo. Ia menekankan, tidak ada satu ormas pun yang menerima uang, apalagi sampai triliunan rupiah.

"Tidak ada ormas menerima, Wahdah tidak, MIUMI tidak, FPI tidak, sama sekali tidak ada," kata UBN yang juga Sekjen ormas MIUMI tersebut di konferensi pers yang digelar di AQL, Selasa (27/6).

Ia menerangkan, pertemuan GNPF-MUI dan Presiden Joko Widodo membahas masalah-masalah besar yang tengah menimpa bangsa Indonesia. UBN mengingatkan, pertemuan itu sebenarnya telah digagas lama sejak Aksi 411 dan baru terwujud sekarang.

Senada, Wakil Ketua GNPF-MUI Ustaz Zaitun Rasmin menuturkan, tidak ada satu ormas pun yang menerima uang, satu sen saja apalagi sampai satu triliun satu ormas. Ia menilai, itu jadi fitnah kejam yang bisa merusak niat baik yang ada.

"Satu pun tidak ada, bahkan satu sen pun tidak ada, itu fitnah kejam, bisa menciderai niat baik yang dijalin kedua pihak," ujar Zaitun di tempat yang sama.

Ia turut menangkis tudingan soal adanya anggota GNPF-MUI yang kabarnya diberangkatkan ke Cina. Menurut Zaitun, anggota GNPF yang pergi ke Cina dalam rangka studi banding, dan memakai dana pribadi yang tidak sama sekali melibatkan Presiden. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement