REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan Partai Golkar untuk islah dinilai sebagai bentuk hasrat kekuasaan dalam kepemimpinan pemerintahan daerah. Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada Purwo Santoso, menilai fenomena itu wajar adanya.
"Partai politik memang partai yang digunakan untuk mendapatkan kekuasaan," kata Purwo saat dihubungi ROL, Ahad (24/5).
Ia menilai hal tersebut adalah sesuatu yang normal dilakukan sebuah partai politik. Mereka pasti tidak ingin kehilangan kekuasaan sehingga akhirnya menempuh jalan islah demi mengikuti pilkada yang akan digelar serentak.
Bukan hanya pada partai yang tengah berkonflik. Ia menyebut semua parpol pasti ingin mendapat kekuasaan. Bukan hanya Golkar yang tengah berkonflik kemudian sengaja islah untuk dapat kursi pemerintahan.
"Ini berlaku di semua parpol," kata dia.
Islah dinilainya jadi jalan untuk memperoleh kesempatan bersaing dalam Pilkada. Sebab bagaimanapun partai yang berkonflik tidak boleh mendaftar untuk ikut gelaran pemilihan pemimpin daerah yang akan diadakan Desember mendatang. Terlebih batas waktu pendaftaran yang semakin dekat.